Cara Menidurkan Bayi Berbagai Suku di Indonesia

Advertisements

Capek lah gadang cucu nenek,

Buliah lah kito pulang ka Padang,

Pintar sikola, pintar mangaji, pintar sumbayang, cucu nenek.

Aku ikut terlelap saat ibu menyanyikan lagu pengantar tidur untuk  cucu kembarnya, dua hari sepulangnya kami dari rumah sakit setelah hari persalinanku. Nyanyian sama setiap harinya, setiap saat dia mengasuh kedua cucunya.

Suara ibu sangat merdu, mendayu-dayu, membuat mataku mengantuk dan akhirnya terlelap bersama kedua buah hatiku.

Lirik di atas jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih begini maknanya:

Cepatlah besar cucu nenek,

Boleh lah kita pulang ke Padang,

Pintar sekolah, pintar mengaji, pintar shalat, cucu nenek.

Manjujai, demikian istilah meninabobokan atau cara menidurkan bayi dalam tradisi masyarakat Minang, Sumatera Barat, kampung halamanku tercinta. Sayang, aku tak bisa seperti ibu yang masih memegang teguh tradisi tersebut, yaitu bernyanyi sambil menggendong cucunya dengan gendongan kain.

Foto: Ibuku dan ketiga cucunya

Tiga baris lirik di atas hanya satu dari sekian banyak nyanyian manjujai yang dilantunkan ibu-ibu Minang untuk anak cucunya. Lainnya aku tak hapal. Maklum, lebih dari 10 tahun sejak lulus SMA aku sudah merantau ke Jawa. Aku tak sempat belajar semuanya dari ibu.

Sekarang aku lebih nyaman meninabobokan kembar dengan lagu-lagu pengantar tidur yang ada di channel anak Babyfirst atau Duck TV, atau buka hp pasang murotal. Opsi lainnya putarkan koleksi lagu lullaby di YouTube.

Mohon maaf ibu, bukannya sok kebarat-baratan, tapi memang anakmu ini tidak hapal semua lagu yang ibu nyanyikan. Coba sekiranya saat ini aku masih tinggal di kampung, bersuamikan orang sana, mungkin? Atau tinggal bersama orang tua, mertua, atau rumah tak jauh dari keduanya, aku yakin aku bisa seperti ibu.

Takdir berkata lain, aku merantau ke Bogor dan Jakarta, ketemu jodoh di sana, kemudian hijrah ke Bali ikut suami. Meski demikian, aku akan terus berusaha supaya kelak setidaknya anak-anakku masih bisa berbahasa daerah.

Banyak sekali tradisi, khususnya nyanyian rakyat yang digunakan orang tua kita terdahulu untuk menidurkan anak. Polanya sekilas sama, hanya bahasa daerahnya saja yang berbeda. Biasanya ibu bernyanyi sambil menggendong anak dalam pelukan, atau membuainya dalam ayunan.

Entah kenapa kalo mendengar lirik-lirik nyanyian rakyat tersebut, hati menjadi tenang, semakin sayang, dan rasanya semakin dekat dengan yang menyanyikan. Aku yang sudah 32 tahun saja tetap merasakan hal sama saat mendengar ibuku menyanyikan lagu-lagu itu.

LAGU NINA BOBO TRADISIONAL

Begitu banyak kearifan lokal berupa nyanyian rakyat pengantar tidur dimiliki berbagai suku di Indonesia. Nah, kali ini kita akan membahas beberapa di antaranya.

1. Manjujai, Suku Minang

Setiap momen Hari Ibu, berbagai daerah di kabupaten dan kota di Sumatera Barat menggelar lomba manjujai atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan kontes menidurkan bayi. Ibu-ibu peserta lomba biasanya akan membawa serta bayinya, kemudian mulai bersenandung hingga bayinya tertidur.

Manjujai sebetulnya tak sekadar bernyanyi untuk buah hati. Pada dasarnya manjujai adalah mengajak anak berbicara, menasihatinya, merangsang alam bawah sadar anak untuk memenuhi harapan dari kalimat-kalimat yang didengarkan.

Dalam lirik lagu yang dinyanyikan ibuku di atas misalnya. Ibu berharap cucu-cucunya nanti akan pulang ke Padang. Maksudnya adalah pulang ke kampung halaman dan mengenal tanah kelahiran ibunya. Bentuk lain dari manjujai selain bernyanyi dan bersenandung adalah berpantun, juga bershalawat.

Penelitian Delima dkk dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Padang yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Kesehatan menyebutkan anak-anak, khususnya berusia 12-24 bulan yang sering dijujai memiliki kecerdasan kognitif, bahasa, motorik halus dan kasar lebih baik dari anak lainnya.

Baca Juga: Halodoc Konsultasi Dokter, Aplikasi Kesehatan Keluarga

Penelitian ahli gizi Universitas Andalas, Helmizar di Kabupaten Tanah Datar menunjukkan anak yang diberi intervensi manjujai saat MPASI memiliki catatan pertumbuhan lebih bagus dan lebih pesat dari anak yang tidak diintervensi hal serupa. Wah, keren ya?

Baca Juga: Berapa Sih Berat Badan Ideal Balita?

2. Bapukung, Suku Banjar dan Dayak

Bapukung adalah menidurkan anak dengan cara si anak didudukkan di dalam ayunan yang dibalut dengan kain tapih sebatas leher. Biasanya tali pengikat ayunan ini digantung di atas plafon di tengah rumah.

Orang tua biasanya mengikatkan surat yasin, daun jariangau, katupat guntur, dan kacang parang di ayunan anak. Tujuannya secara tradisional adalah menangkal penyakit dan makhluk halus yang berniat mengganggu bayi.

Menurut pengalaman masyarakat Suku Banjar dan Dayak di Kalimantan Selatan, anak yang diayun dengan posisi kepala berdiri lebih cepat tertidur dibanding anak yang diayun dalam posisi berbaring.

Foto: IG @azweend

Bayi yang dibalut dengan kain sedemikian rupa, sebagaimana penampakannya di foto membuat tubuhnya lebih hangat, persis seperti posisi saat berada di dalam kandungan.

Selain senandung pengantar tidur, ibu juga bisa melakukan hal lain saat bayinya terlelap dalam ayunan. Ibu bisa memasak di dapur, menyapu rumah, atau melipat kain.

Lirik lagu dalam bapukung bisa berupa shalawat nabi, doa, dzikir, hingga bacaan ayat-ayat suci Alquran. Banyak nilai moral, nilai agama, dan nilai lain terkandung dalam tradisi ini.

3. Mandideng, Suku Batak Toba

Masyarakat Batak Toba sering menyanyikan atau mandideng anaknya saat akan tidur. Si anak biasanya akan digendong (diompa) dengan kain gendongan yang disebut perompa. Anak biasanya akan digendong depan atau ompa jolo, bisa juga dimasukkan ke dalam ayunan.

Ibu biasanya akan bernyanyi sambil menepuk-nepuk panggul anaknya seiring irama lagu. Tak jarang kaki ibu ikut menghentak mengikuti suaranya yang mendayu-dayu. Setelah anak tertidur, barulah sang ibu meletakkan anaknya di kasur.

4. Royong, Suku Bugis

Tradisi ini disebut juga Yabalale oleh Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Royong dan yabalale adalah tradisi menidurkan anak dalam ayunan sarung dengan nyanyian khas.

Berikut salah satu penggalan lagu Royong versi suku Makassar:

Ana’ tinro mako naung pakaselaki matannu.

Mata ta’do’do’ pa’lungang manakku tommi.

I baso sallang lompo na’bayuang se’re bori.

Manna tanjari punna kaleleang mamo.

Ana tinro mako naung pakaselaki matannu.

Ambangungko nai te’ne tommi pa’mai’nu.

(Bahasa Indonesia)

Tidurlah Anakku sayang, lelapkanlah matamu.

Mata yang mengantuk, bantalmupun telah merindukanmu.

Bila nanti engkau dewasa menjadi kekasih seluruh alam.

Walau tak jadi asalkan sudah terbagi.

Tidurlah anakku sayang, lelapkanlah matamu.

Bila nanti engkau bangun, bahagia sudah perasaanmu.

5. Peuayon Aneuk, Suku Aceh

Aceh pun memiliki tradisi meninabobokan anak disebut peuayon aneuk, terlepas dari idealisme Islam yang menjadi dasar Bumi Serambi Mekah. Nyanyian pengantar tidur biasanya berisi nasihat atau peutuwah untuk si kecil.

Isinya bisa berupa shalawat Nabi, kisah perjuangan ibu mengandung dan melahirkan anaknya, hingga semangat pahlawan Aceh dalam perang kemerdekaan.

Foto: IG @rajaumar_aceh

Ibu-ibu di Aceh bernyanyi sembari berharap keridaan Allah untuk anak tercinta. Berikut sedikit petikan syair peuayon aneuk di Aceh:

Sikureung buleen gata lam kandong

Dari buleen phoen hingga keluar

Saket ngon susah phoma tanggong

Geu seurah untong bak yang kuasa

(Bahasa Indonesia)

Sembilan bulan ananda dalam kandungan

Dari bulan pertama hingga melahirkan

Rasa sakit dan susah ibu yang tanggung

Nasib dipertaruhkan dengan harapan sama Allah Yang Kuasa

6. Mbue-bue, Suku Muna

Masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara memiliki banyak sekali tradisi berbentuk nyanyian dan permainan. Ada hiburan yang khusus untuk anak-anak, orang dewasa, wanita yang baru dipersunting laki-laki, dan wanita yang sudah memiliki momongan.

Mbue-bue dalam bahasa Indonesia berarti buai-buai atau ayun-ayun. Ibu biasanya bernyanyi saat anaknya diayun dalam ayunan sarung atau ayunan kayu.

Lirik Mbue-bue mengandung banyak aspek kehidupan, misalnya orang tua yang berharap anaknya menjadi anak berbakti. Ibu juga berdoa supaya anaknya bisa meraih cita-citanya saat dewasa nanti. Mbue-bue bisa dinyanyikan pagi, siang, sore, malam, bahkan tengah malam.

7. Ayun Budak, Suku Bangun Purba

Masyarakat Bangun Purba di Rokan Hulu, Riau umumnya adalah masyarakat Mandailing yang diberi tanah khulifah oleh Kerajaan Melayu Rambah pada zaman dahulu. Ayun budak adalah tradisi yang dilakukan ibu-ibu ketika akan menidurkan anaknya di dalam ayunan.

Lagu-lagu yang dinyanyikan biasanya berisi nasihat, petuah, dan doa. Secara umum ayun budak dilakukan untuk anak yang berusia kurang dari setahun.

Biasanya ayun budak dilakukan pagi dan siang hari, di dalam rumah, ruang terbuka, atau di tanah lapang. Tempat untuk anak diayun dihiasi seperti tempat duduk pengantin, dihiasi pita, kertas, dan kain aneka warna.

Ayun budak pertama kalinya dimulai saat bayi diakikah. Setelah bayi dicukur dan ditepung tawari, bayi ditaruh ke dalam buaian dan ditimang bersama diiringi lantunan lagu lembut dan merdu.

8. Dodoy, Suku Melayu Siak

Dodoy masuk ke dalam jenis nyanyian rakyat yang digunakan masyarakat Melayu Siak, Riau untuk menidurkan anak. Dodoy biasanya dilantunkan ibu di dalam rumah, kapan saja anaknya akan tidur.

Suasana yang tercipta saat ibu mendodoy harus sunyi dan tenang. Liriknya berupa kata-kata sederhana yang disusun seindah mungkin, layaknya puisi, namun dinyanyikan secara lembut. Anak pun terbuai dengan alunan suara sang ibu, sehingga tertidur pulas.

Nilai-nilai yang terkandung dalam dodoy mulai dari nilai agama, moral, dan pendidikan. Dodoy juga sebagai media untuk menguatkan kasih sayang orang tua dan anak.

Ada dua cara ibu mendodoykan anaknya. Pertama, denga cara menimang sambil menggendong. Kedua, memasukkan anak ke dalam ayunan.

Ibu biasanya seperti berceloteh mengajak anaknya berbicara sampai tertidur. Meski pun si anak belum mengerti apa yang dikatakan ibunya, namun secara personal anak bisa merasakan kedekatan dengan sosok yang melahirkannya.

9. Lelo Ledung, Suku Jawa

Masyarakat Jawa mengenal tembang Lelo Ledung. Lelo dalam bahasa Jawa artinya menimang, sedangkan ledung artinya anakku sayang. Salah satu petikan liriknya adalah:

Tak lelo lelo lelo ledung

Cup menengo anakku cah ayu (bagus)

Tak emban slendang batik kawung

Yen nangis mundak Ibu bingung

(Bahasa Indonesia)

Kutimang-timang engkau anakku

Diam/ tenang lah anakku yang cantik/ ganteng

Kugendong dengan selendang batik kawung

Kalau menangis nanti ibu bingung

Bait ketiga yang menyebutkan selendang batik kawung menyiratkan sejarah kehidupan masyarakat Jawa zaman dahulu. Batik kawung adalah simbol harapan supaya sebagai manusia, anak akan terus mengingat asal usulnya. Istilahnya tidak menjadi kacang yang lupa kulitnya.

Ibu-ibu biasanya menyanyikan Lelo Ledung saat anaknya akan tidur, saat anaknya merengek, atau menangis. Tujuannya adalah menenangkan.

NYANYIAN RAKYAT KIAN TERLUPAKAN

Mungkin bukan hanya aku generasi muda yang tak kenal lagi cara menidurkan bayi secara tradisional. Faktanya memang demikian.

Nyanyian rakyat, juga lagu-lagu anak Indonesia semakin hilang dari waktu ke waktu. Perannya digantikan musik-musik lain berbagai aliran yang lebih bisa diterima di telinga.

Anak-anak zaman sekarang malah semakin banyak beralih menjadi penikmat lagu-lagu dan musik-musik orang dewasa. Muatan pesannya jauh dari esensi nyanyian rakyat nenek moyangnya terdahulu.

Pesan-pesan yang diberikan lagu-lagu sekarang lebih berisikan syair-syair jatuh cinta, patah hati, kekerasan, perselingkuhan, dan sebagainya.

Hal paling kutakuti adalah anak-anak yang mendengar dan menyanyikan menjadi menjiwai lagu-lagu dan musik tersebut, yang pada akhirnya memengaruhi kepribadian mereka.

Fitrahnya anak adalah lahir suci dan bersih. Jika mereka dibiasakan mendengar dan berbicara baik, maka dia akan tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Anak-anak yang diberi kasih sayang verbal, misalnya lewat nyanyian berisi pujian dan kata-kata sayang akan merasa dicintai sepenuh hati.

Lagu-lagu kelonan warisan nenek moyang kita mengandung banyak sekali nilai kebaikan yang bisa kita terapkan sebagai pola pengasuhan anak.