Saat Bayiku Jatuh dan Kepalanya Terbentur

Advertisements

Kejadian ini pernah dialami hampir seluruh orang tua di dunia. Di sebuah tempat, di suatu waktu, dan dalam jangkauan pengasuhan kita, kita melihat bayi terjatuh dari kasur, dan kepalanya terbentur mengenai lantai, dinding, atau hp.

Kepala bayi terbentur hp? Iya, momennya pas ibu lagi tiduran menyusui bayi sambil scroll hp. Eeeh, tahu-tahunya si ibu ikut mengantuk dan tiba-tiba JEDUGGGG!!!! hp yang tadinya ada di tangan jatuh dan menimpa kepala si kecil.

Tak sampai sedetik menggema lah suara cipta tangisan anak bangsa yang masih suci tak berdosa lantaran ketimpuk hp emaknya.

Loh, baru baca tulisan saya sampai di sini kok udah ketawa sih? Hayo ngakuuu, pernah mengalami hal sama ya? Makanya, bunda jangan megang hp dulu kalo lagi nyusuin anak ya. Kekeke.

Putra kembar saya saat ini berusia 10 bulan. Keduanya masuk fase berdiri mandiri. Si abang malah sudah bisa merambat kanan kiri, dari sisi tv ke rak-rak buku, udah kayak Spiderman aja. Selama fase ini pula kepala mereka tak sekali dua kali terbentur.

Paling ngeselin itu adalah waktu kita menaruh perhatian penuh pada keduanya, mereka aman sentosa, jauh dari kecelakaan-kecelakaan kecil di rumah. Tapi, ketika kita lengah sekian detik saja, seperti kemarin saya hanya pergi ambil air minum ke dapur, tiba-tiba tubuh si abang menghantam lantai dan suara kepalanya membentur lantai jelas sekali.

Pernah juga waktu saya ke kamar ganti popok si abang, eh giliran adek yang terjatuh. Sering kali saya mikir keras, kok bisa selama itu saya mengawasi mereka, giliran saya pinjam waktu semenit dua menit saja mengerjakan hal lain justru di saat sama hal tak diinginkan itu terjadi.

Baca Juga: 10 Produk Perlengkapan Bayi Paling Berguna

Setiap mereka terjatuh, saya terus merasa bersalah. Sedih, kecewa, menyesal dengan diri sendiri. Kadang saya juga menangis jika menemukan benjolan di kepala abang atau adek. Semua yang bisa saya lakukan adalah tetap tenang.

KEPALA BAYI TERBENTUR LANTAI

Ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan saat kepala bayi terbentur lantai, dinding beton, atau benda keras lainnya.

Jika si kecil muntah dan kejang mendadak, tengkurap atau balikkan tubuhnya dengan posisi leher lurus. Jika hidungnya berdarah, tekan lembut batang hidungnya dan bersihkan darah pada hidung dengan kain kasa atau handuk bersih sampai darah berhenti atau bantuan dokter tiba.

Jika si kecil tidak terluka, angkat tubuhnya, gendong, dan usap punggungnya. Dia mungkin merasa takut dan khawatir.

Sambil menghibur, periksa kepala si kecil apakah mungkin ada tanda-tanda cedera. Periksa juga tubuhnya mana tahu ada memar.

Kapan harus telepon dokter atau membawa si kecil ke rumah sakit?

Ada lagi tanda-tanda mengkhawatirkan jika bayi terjatuh dan kepalanya terbentur, selain cedera yang bisa dilihat dan hilang kesadaran. Tanda-tanda tersebut adalah sebagai berikut:

Baca Juga: Rumah Aman, Si Kecil Selamat

Hal paling ditakuti dari kejadian kepala bayi terbentur lantai  adalah gegar otak. Gejala ini biasanya tidak langsung dapat dilihat. Gegar otak adalah cedera otak yang memengaruhi pemikiran bayi.

Karena bayi satu tahun belum bisa memberi tahu orang tua tentang apa yang mereka rasakan, sulit rasanya kita mengidentifikasi gegar otak tersebut.

Meski demikian, ada beberapa ciri yang bisa diperhatikan dan perlu diwaspadai, antara lain:

Selain gegar otak, hal yang perlu dikhawatirkan adalah luka dalam, di antaranya pembuluh darah robek, tulang tengkorak patah, dan kerusakan otak lebih parah. Jika tanda-tanda mengkhawatirkan muncul, segera bawa si kecil ke rumah sakit dan mendapat penanganan medis.

Baca Juga: Halodoc Konsultasi Dokter, Aplikasi Kesehatan Keluarga

CEGAH CEDERA

Lakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk menjaga keamanan anak. Bayi di bawah satu tahun perlu mendapat pengawasan intensif, sebab tulangnya masih lunak, khususnya tulang tengkorak kepala.

1. Tempat tidur aman dan nyaman

Bayi tidak boleh ditidurkan di tempat tidur orang dewasa tanpa pengawasan. Boks bayi lebih aman dengan adanya pengaman di keempat sisinya.

2. Jauhkan anak dari tempat tinggi

Jangan tempatkan bayi tanpa pengawasan di permukaan yang lebih tinggi dari tubuhnya. Ini termasuk bouncer, kursi mobil, meja makan, atau ayunan, meski pun mereka dalam posisi terikat dengan seat belt.

3. Gunakan pelindung sudut

Pelindung sudut diperlukan untuk furnitur-furnitur khusus, misalnya meja makan, rak televisi, dan sebagainya.

4. Keset antislip

Gunakan keset antislip di seluruh bagian rumah. Ini untuk menghindari bayi jatuh atau terpeleset ketika menginjaknya.

5. Awasi tangga rumah

Bagi yang memiliki rumah dua lantai atau lebih, tempatkan pelindung (gate stair) untuk mencegah bayi merangkak naik tangga.

6. Kasur tanpa dipan

Turunkan segera kasur dari dipannya begitu si kecil sudah mulai bergerak aktif, seperti berdiri sendiri. Tak masalah tidur di kasur tanpa dipan demi keselamatan anak.

7. Terus awasi anak

Awasi anak setiap saat. Selamatkan mereka setiap kali mulai melakukan hal-hal mengkhawatirkan.

Yang namanya kepala anak terbentur lantai, kejedug tembok, luka lecet karena lari-larian, sampai luka sobek dan harus dijahit, pergi ke rumah sakit, semua adalah bagian dari menjadi orang tua. Hal buruk terjadi bukan berarti kita orang tua buruk.

Baca Juga: Rahasia Ibu Aktif Selama Menyusui

Mengasuh anak tak ubahnya seperti petualangan yang penuh tantangan. Ketahuilah ada banyak orang tua di luar sana yang bernasib sama. Mereka juga berusaha menjadi orang tua terbaik, sama seperti kamu, bunda!  😉  🙂