Mengontrol Anak Berlebihan Itu tidak Baik, Bunda!

Orang tua kadang bersikeras mengendalikan anaknya dan ingin terlibat semua kegiatan buah hati, mulai dari sekolah, les biola, hingga latihan sepak bola. Mereka ingin anaknya selalu unggul dan kompetitif di seluruh bidang.

Sebuah studi 2011 diterbitkan dalam Journal of Child and Family Studies menemukan mendaftarkan anak dalam banyak kegiatan ekstrakurikuler tak menjamin anak lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih sukses. Anak terlalu bergegas dari aktivitas satu ke aktivitas berikutnya yang kerap melelahkan, menguras tenaga, juga uang.

mengontrol anak
Foto: The Himalayan Times

Apa saja bahaya orang tua yang terlalu mengontrol anak?

1. Membatasi kreativitas anak

Orang tua kadang memilihkan sendiri kegiatan apa yang bagus untuk anak-anaknya tanpa menanyakan keinginan anak sesungguhnya. Buah hati seharusnya dibiarkan mengeksplorasi minat bakatnya. Anak perlu dibiarkan memecahkan masalah sendiri, sebelum dibantu orang tua.

2. Anak mudah cemas

Anak yang terbiasa dikontrol orang tua lebih mudah merasa cemas jika suatu ketika orang tua tak berada di sampingnya. Ini karena anak terbiasa bertanya dan meminta saran dari orang tua, serta tak biasa mencari solusi sendiri.

Orang tua yang terlalu mengontrol anak cenderung memiliki anak-anak yang gugup. Ketimbang terus membayangkan hal-hal buruk terjadi pada anak, usahakan memberi mereka kebebasan untuk menjadi anak-anak seusianya.

3. Anak takut berbuat salah

Jika orang tua terus memantau setiap langkah anak, anak mungkin akan takut membuat kesalahan. Padahal kesalahan bisa menjadi pelajaran hebat dan membantu anak berani menghadapi kegagalan.

Anak yang terlalu dikontrol orang tua mungkin berpikir berbuat salah itu buruk. Dia pun mencoba menutupi kesalahan yang dilakukan.

Ajari anak berbuat salah itu normal. Bicarakan pentingnya bertanggung jawab atas perilaku dan tunjukkan padanya yang namanya manusia pasti pernah berbuat salah.

4. Gangguan kesehatan mental

Anak-anak yang terlalu dikendalikan orang tua berisiko tinggi memiliki masalah kesehatan mental. Depresi dan kecemasan dapat terjadi ketika orang tua menuntut anak patuh dan anak tak memiliki kebebasan mengekspresikan diri.

Studi 2013 yang diterbitkan Journal of Social and Clinical Psychology menemukan anak-anak dengan orang tua yang suka mengontrol tak bisa berjuang menghadapi kecemasan dan stres saat beranjak dewasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.