Kakak Mae & Big-Sibling Blues

WhatsApp Image 2019-08-04 at 06.21.58

Maetami, putri pertama kami pada usia yang masih 2 tahun 7 bulan didaulat menjadi kakak untuk dua adik sekaligus. Enam bulan berlalu sejak hari persalinan itu, namun si kakak masih menyimpan sedikit rasa cemburu di hati terhadap adik kembarnya.

Gak peduli seberapa besar atau seberapa kecil umur anak, yang namanya anak pertama pasti butuh waktu menyesuaikan diri ketika memiliki adik. Pas adiknya belum lahir saja, banyak temanku berkomentar duluan perihal Mae nantinya akan mengalami apa yang namanya big-sibling blues.

Ibuku setiap menelepon selalu mewanti-wanti agar Mae tak lepas dari pengawasan kami. Si nenek takut pas kembar tidur, Mae bisa saja menutup wajah adiknya dengan bantal atau selimut (ups, ini memang pernah terjadi sekali dua kali), mencubit atau memukul adiknya diam-diam (and yes, ini juga pernah terjadi). Kok si nenek tahu? Karena anaknya (aku yang juga anak pertama) dulu pernah menggigit tangan adikku sampai merah dan berbekas. Omaigat.

Being jealous is normal for all firstborns, tentu saja. Namun, sebagai ibu, kita harus bisa menanganinya dengan baik, sebab ini faktor penentu bagaimana si kakak ke depan memandang adiknya, sebagai kawan atau justru lawan or saingan?

Sekarang Maetami sudah 3 tahun 2 bulan. Di usia ini, si kakak justru makin cengeng, makin nempel sama ibunnya, meski sudah cerai ASI. She still sees herself as a baby sometime. Hahaha. Meski begitu, syukur alhamdulillah big-sibling blues-nya jauh jauh berkurang.

WhatsApp Image 2019-07-20 at 16.12.15
Mae dan papa
WhatsApp Image 2019-07-13 at 14.25.28
Mae dan ibun

Saat kembar lahir, teman-teman berdatangan menjenguk, membawa berbagai macam hadiah. Mae gak kalah excited-nya melihat hadiah-hadiah itu. Dia dengan pede-nya mengira semua pemberian itu ditujukan untuknya. Begitu gembiranya dia membuka satu demi satu kertas kadonya, lalu berubah kecewa saat mengetahui mayoritas barang-barang itu untuk adiknya. Big siblings blues Mae bermula dari sini. Untungnya mas cepat tanggap menyiapkan kado terpisah (dibeli sendiri) untuk si kakak. Matanya pun langsung berbinar senang.

Sebulan pertama adik kembar di rumah, Mae sering tantrum. Dia bahkan pernah demam semalam karena menangis kejer, tak rela melihatku tidur bersama kedua adiknya, sementara dia tidur di kasur terpisah, meski dengan papanya. Sering dia meminta agar adiknya ditaruh di box bayi, sementara tanganku harus memeluknya.

Belum sebulan operasi sesar, si kakak manja gak ketulungan minta digendong setiap mau mandi. Mulai  bersikap aneh, seperti bicara padaku pakai bahasa bayi, padahal faktanya si kakak sudah bisa ngomong jelas. Banyak lagi keanehan terjadi.

WhatsApp Image 2019-08-12 at 21.02.30

Pernah Mae ingin dipakaikan popok dengan posisi tidur, persis seperti bayi. Dia juga pernah ingin minum susu dari dot lagi karena melihat adiknya ngedot. Pernah dia memaksa ingin memakai baju bayinya kembali yang saat itu tengah dipakai adiknya. Mae bahkan berteriak si kembar tak boleh memakai baju lamanya yang sudah kecil.

WhatsApp Image 2019-08-16 at 14.06.55
Rashif dan Rangin (6 months)

Dalam tidurnya tak jarang Mae tersedu-sedu, atau marah menggeram sendiri dengan mata terpejam. Entah mimpi buruk apa. Kerap dia mengamuk dan marah setiap adik kembarnya menangis tengah malam atau jam tidur siang, sambil bilang, “Berisik!”

Big-siblings blues Mae sebetulnya sudah kami antisipasi sejak adik-adiknya masih di dalam kandungan. Rutinitas sederhana, seperti memegang perut ibun tiap hari, kiss adik di perut saat bangun pagi dan sebelum tidur, ikut lihat perkembangan adek via USG di dokter, dan pelan-pelan menyapih tidur Mae dengan papanya (beda kasur, meski di kamar yang sama).

Kekhawatiran mengasuh tiga bayi sekaligus, tanpa bantuan ART kualami sejak lama. Belum lagi rasa lelah, sakit, atau nyeri punggung bekas suntikan operasi masih cenat cenut sampai sekarang. Meski demikian, aku berusaha tetap ceria dan positif demi anak-anakku. Ini adalah konsekuensi dari keputusanku resign dari kantor dan mengasuh ketiga anakku sendiri. In life, if you don’t risk anything, you risk everything. Bukankah begitu, Rosalinda? Hehehe.

Kakak Mae ini tipe rada posesif (mungkin sebagian besar anak pertama begitu ya). Dia ingin terlibat semua hal tentang adiknya, mulai dari memilihkan pakaian bayi, menyelimuti adiknya saat tidur, mencium memeluk adiknya dengan erat. Aku pun tak ambil pusing. Ya biarkan saja si kakak membantu sebanyak yang dia mau asal selalu dalam pengawasan. Mae juga sangat marah ada orang yang bercanda ingin ‘meminjam’ atau ‘mengambil’ adiknya, siapapun itu, bahkan kakek neneknya sendiri.

Yang namanya kakak, pasti ingin bermain dengan adiknya. Mae kerap melihat adik kembarnya sebagai teman bermain. Namun, karena masih batita, dia tak tahu cara yang benar. Responsku pun kadang berlebihan. Ini salahnya.

Kadang Mae bermaksud bermain lempar tangkap bola dengan si adik. Pernah dia melemparkan bola gabus (untung bukan bola kasti) ke arah Rashif, kemudian aku yang kebetulan melihat langsung ‘berteriak’ melihat si kakak melempar bola itu ke adiknya.

Pernah juga Mae mengajak adiknya bermain cilukba. Tapi, yang ada dia mengambil selimut bayi dan menutupi wajah adiknya, kemudian membukanya dan berkata ‘Cilukbaaaa.’ Dia malah tertawa melihat adiknya megap-megap karena gak bisa napas ketutup selimut. And yes, aku melihatnya sendiri sambil mengamati. Setelah itu? Spontan saja aku bersuara tinggi lagi karena takut si adik gak bisa napas.

Sering Mae memeluk adiknya gemes, namun kesannya itu pelukan ‘menyiksa,’ bahkan adiknya sampai berteriak. Lagi-lagi aku buru-buru mengingatkan Mae untuk berhati-hati memeluk adiknya.

She is confused. Kadang suara ibu atau papanya terkesan memarahi, padahal bukan itu maksud kita. Ujung-ujungnya si kakak menangis, bahkan semakin agresif.

Dari sini aku belajar, setiap kali si kakak dekat dengan adik-adiknya dan berubah kasar, ada baiknya aku mengalihkan perhatian. Misalnya, ajak si kakak ambil jajan di kulkas, ambil mainan, dan melakukan aktivitas lain.

Ada tips khusus gak sih? Adaaaaa. Baca terus ya…

Mengajarkan Kakak Mae memberi sentuhan lembut pada adik kembarnya adalah pelajaran tersulit sampai sekarang. Si kakak suka lupa. Padahal aku sudah mengajarkan, kalo gemas sama adik, gosok punggungnya, elus pipisnya, atau beri ciuman mesra. Faktanya, setiap si kakak gemas, baru beberapa detik menggosok punggung adiknya, Mae langsung menguwel-uwel pipi si adik sambil bilang, “Iiiii, adik lucuuuu.” Trus muka adiknya yang awalnya senyum-senyum berubah meringis karena pipinya kesakitan. Semoga si kakak cepat belajar ya.

PR buat emak-emak. Kalo lagi gemas sama bayi, usahakan si kakak jangan sampai melihat apa yang kita lakukan. Apakah itu mencium gemas, menowel pipi gemas, memencet hidung, memukul mesra pantat bayi (plus gigi geretekan), atau meniup perut bayi sampai si kecil tertawa. Kita sebagai orang dewasa tentunya bisa mengendalikan kekuatan fisik saat berinteraksi dengan bayi. Namun, si kakak yang melihat kan belum bisa. Dia akan melakukan hal sama terhadap adiknya, namun dengan tenaga kura-kura ninja. Ini dia yang sebenarnya kadang bikin kakak kasar ke adiknya. Your daughter will learn most from watching you. Heuheuheu (salah lagi nih emak).

Berikan pujian dan komentar positif setiap kali si kakak memperlakukan adiknya dengan benar. Saat Mae membelai kepala adiknya atau menyelimuti kembar yang tertidur, aku langsung memberi tanda jempol, memeluk, dan mencium si kakak. Kukatakan betapa bangga aku padanya.

Jangan pernah menggunakan si adik untuk menyalahkan si kakak. Misalnya, saat kakak malas makan, ibu bilang si adik lebih banyak makan dari si kakak. Saat kakak malas tidur siang, ibu bilang adik lebih rajin tidur siang. Jangan pula menyalahkan si kakak dengan pernyataan menyudutkan. Misalnya, “Tuh kan kakak gak mau diam, adik jadi bangun.” #gigitlidahsendiri karena sering mengatakan ini. Help me, Fernando José Altamirano del Castilloooo :'(

Jika dalam interaksi fisik dengan kakak sudah berkurang karena ibu terlalu sibuk mengurus adiknya, tingkatkan bonus cinta dalam bentuk lain, seperti tambah pujian. Katakan, “Ibun sayang kakak” berulang kali. Jika perlu, sampai si kakak bosan mendengarnya. Hehehe.

Libatkan kakak mengurus adik. Aku paling sering meminta kakak menghibur adiknya yang sedang merengek atau menangis saat aku sibuk mengerjakan tugas lain yang tak bisa ditinggalkan. Mae selalu bisa membujuk adik yang menangis dengan caranya sendiri (jika tangisannya bukan tangisan haus). Inisiatifnya kadang bikin aku terkagum-kagum, bahkan meniru caranya sampai sekarang. Misalnya saja, Mae membunyikan musik lullaby di bouncer bayi, bermain cilukba, melawak dengan caranya. Kalo udah nyerah, baru deh dia panggil ibunnya.

Tak jarang Mae ngedotin adiknya, bahkan marah ketika aku mulai kesal (dengan diri sendiri) dan itu terpampang nyata di wajah dan sikapku saat merawat si kembar. Kalo muka emaknya udah asem dikit, trus ada ‘musik’ plentang plentong pas nyuci piring di dapur, Mae langsung bilang, “Bun, jangan marah-marah. Ibun sabar yaaaa.” Hadooooh, meleleh jadinya. Hebat kaaan si kakak.

Keterlibatan kakak menurutku cara terampuh mengatasi big-sibling blues. Buktinya? Sekarang jarang banget Kakak Mae iri-irian ke adiknya. Mae mau meminjamkan mainan pada adiknya (meski diawali dengan rasa enggan). Mae merelakan channel tv favoritnya untuk diganti ke saluran Didi & Friends yang paling ampuh mengalihkan perhatian si kembar. Mae mau menghentikan sementara waktu bermainnya bersama ibun demi si adik.

Every child is different. Mungkin saja pada beberapa anak sulung big-sibling blues langsung muncul sejak si adik masih dalam kandungan, bahkan ada yang terang-terangan mengatakan dia tidak berharap punya adik (untungnya Mae gak kayak gini). Ada juga big-sibling blues yang berlangsung hanya beberapa bulan setelah si adik lahir ke dunia. Nah, Mae masuk kategori ini nih kayaknya.

Menurutku, hal yang dibutuhkan si kakak adalah orang tua yang tetap tenang, tetap nyaman, dan tetap pengertian. Pahami betapa sedihnya dia karena tak lagi menjadi pusat dunia kedua orang tuanya, bahkan kakek nenek om tantenya.

Menjadi kakak (apalagi pada usia yang masih sangat muda) adalah perubahan besar bagi anak pertama, seperti Mae. Sebagai orang tua, kita tidak bisa mempercepat si kakak beradaptasi. Butuh waktu berbulan-bulan, demikian yang kujalani, sekitar 6 bulan. Ini juga bergantung seberapa temperamennya anak pertama. Give them awhile to adjust and be understanding, as much as you can.

WhatsApp Image 2019-07-20 at 16.13.43

Biarlah untuk beberapa bulan rumah yang biasanya damai tentram rutin diisi teriakan dan tangisan anak tantrum. Biarlah untuk beberapa bulan emak bersabar bersimbah keringat kecapean karena si kakak dan adiknya sama-sama menuntut kehadiran ibunya secara fisik. Biarlah untuk beberapa bulan rumah berantakan karena waktu utama tercurah untuk kakak dan adiknya. Biarlah. Yakinlah. Badai pasti berlalu, mak.

Advertisements

One thought on “Kakak Mae & Big-Sibling Blues

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.