Dua Bulan Tanpa ART

utepedu.jpg
Foto: utep edu

Mei 2019, bulan terakhir Yani bekerja di rumah. Ibunya Kak Nia – temannya Mae – ini telah mendampingi sebagai ART kami sejak akhir 2016. Pada bulan sama aku resmi mengundurkan diri dari tempat kerja dan fokus sebagai ibu rumah tangga, merawat suami, satu batita, dan dua bayi kembar 5 bulan.

Memutuskan hidup tanpa ART sungguh bukan pilihan mudah. Dalam perjalananku membiasakan diri dengan rutinitas ini, bukan pula tanpa derai tangis dan air mata, seperti lirik lagu Dian Piesesha. Kekeke. Sempat gamang dan bimbang, apa aku sebaiknya meneruskan memakainya meski sudah tidak bekerja, atau menangani semua sendiri. Akhirnya mantap kuambil keputusan kedua.

Dua minggu pertama cukup waktu bagiku menyesuaikan diri, menemukan ritme kerja. Setelah dua minggu, termasuk di dalamnya ditinggal mas meeting seminggu ke Surabaya, aku mulai terbiasa merawat si kembar sendiri.

Pukul 06.30, keduanya satu per satu kumandikan. Abis mandi, taruh mereka di bouncer masing-masing, putar TV YouTube channel Didi& Friends, Dave&Ava, Cocomelon, PJ Mask, atau murotal anak kartun. Gak berapa lama bergantian menyusui mereka, bergantung siapa yang minta mimik duluan. Jika kebetulan minta mimik barengan, salah satunya dapat jatah mimik botol (susu formula). Kesempatan berikutnya, yang sudah mimik sufor bakal dapat giliran mimik ASI.

Selesai menyusu, si kembar biasanya bobok nyenyak. Kalau pagi, lelapnya lama, bisa sampai 40 menitan. Begitu bangun, jadwalnya tummy time di karpet. Aku ngajak mereka ngobrol sambil tengkurap, bisa sampai 1 jam-an juga. Pukul 15.30, satu per satu sudah mandi sore, termasuk si kakak.

Bayi 0-6 bulan itu terbiasa mengikuti rutinitas. Bangun tidur – mandi – mimik – tidur – tummy time – mimik – tidur – bangun – bermain – mimik – tidur. Begitu seterusnya berulang-ulang.

Buatku, mengasuh anak, khususnya kembar tanpa ART bukan berarti gak berisiko. Meski demikian, bismillah aja deh. Allah selalu melindungi. Yang jelas, pastikan saja keamanan si kecil.

Dua bayi berarti selalu ada risiko ganda menyangkut keamanan mereka. Aku harus yakin soal keselamatan si kembar. Jika mereka ditaruh di kasur, pastikan ada bantal sekeliling untuk menghindari terjatuh, bila perlu tidur di kasur tanpa dipan. Periksa dan pastikan tidak ada benda-benda tajam atau kecil yang memungkinkan ditelan kembar di sekitar tempat tidurnya. Jauhkan juga semua obat-obatan dari jangkauan mereka.

Meng-ASI atau susu formula untuk si kembar? It’s okay mummy, gak usah merasa berdosa karena pilihan yang diambil.

Berbeda dengan kakaknya yang full ASI, kembar sekarang diselingi susu formula. Meng-ASI-hi tentu pilihan terbaik, namun susu formula – pada ibu yang tidak menghasilkan cukup ASI buat dua bayi sekaligus sepertiku – juga memiliki nutrisi yang diperlukan kok. Yang penting, ibu harus tetap hepi agar ASI-nya terus berproduksi dan si kembar menyusu cukup.

Tantangan terbesar membesarkan anak kembar 0-6 bulan sepertiku adalah membuat jadwal tidur mereka tetap sama. Tiga bulan pertama melahirkan, meski dibantu ibu yang tinggal di rumah, aku kelihatan seperti zombie berjalan. Mata panda yang terus mengantuk siang malam, lantaran harus menyusui kembar setiap 2-3 jam sekali bergantian.

Sekarang, memasuki enam bulan, jadwal tidur kembar cenderung teratur. Mereka sering tidur bareng, dan emak senang.

Manajemen waktu

Manajemen waktu adalah dua kata sakti banget buat aku. Ini penting untuk mengatur semua kerjaan di rumah, mulai dari mengurus rumah, anak-anak,  dan suami.

Ternyata semua pekerjaan rumah tangga itu bisa diselesaikan sendiri asal tahan sama godaan berleha-leha dengan HP, medsos, dan menonton TV. Ya iyalah Kanjeng Ratuuuu. Hahahaha.

Berikut adalah contoh rutinitas harian, mingguan, dan bulanan ibu rumah tangga di rumah. Bagaimana pun ini adalah check list pribadiku, artinya mungkin tidak selalu sama alias berbeda dengan ibu-ibu lain, apalagi yang anaknya sudah sekolah.

kerjaan emak.jpg

Memasak, mencuci dan menyeterika pakaian adalah hal paling menyita waktu. Apalagi di tengah-tengah kerjaan, tiba-tiba si kembar nangis. Bergelimpangan lah itu isi dapur dan jemuran.

Mencuci kulakukan tiga kali seminggu. Emak paling anti numpuk pakaian kotor, sebab bakal nyiksa pas nyeterika. Pakaian harian bayi gak semua digosok. Paling asik nyeterika kalo anak-anak dah tidur siang.

Cara ngakalin masak, aku mulai dari food preparation. Bahan-bahan dan bumbu masak untuk seminggu ke depan udah disiapin hari ini. Biasanya aku menyimpannya dalam bentuk food container di kulkas.

Contoh sederhana, ikan dan lauk pauk sudah dipotong, dicuci, dibersihkan. Sayur mayur, seperti kangkung, bayam, sawi hijau sudah dipotong-potong, dimasukkan ke dalam kotak-kotak tupperware.

Cabai sudah dipotekin, sebagian diblender. Bawang merah dan bawang putih sudah dikupas. Jadinya setiap hari tinggal ambil dan cemplang cemplung aja ke wajan.

Percayalah, job sampingan yang tak terlihat masih banyak di luar tabel ini. Mulai dari gendong anak, menghadapi tantrum si kakak, cek jadwal imunisasi anak trus ke dokter, menyusui si kecil, membersihkan susu yang tumpah di karpet, membersihkan pipis si kakak di lantai (pas toilet training), membersihkan dinding bekas coretan krayon, ganti popok, bikin susu botol, nyariin mainan si kakak yang nyelip entah di mana dan anaknya ngotot gak mau ganti mainan lain, gonta-ganti channel TV anak, nina boboin anak, jadi backing vocal pas si kakak nyanyi, jadi pengawal kerajaan pas si kakak jadi princess dadakan, jadi teman nari, teman nyalon, tukang dongeng, ngajarin kakak naik sepeda, belum lagi jadi pelawak supaya anak-anak tetap hepi dan tertawa lepas di rumah. Banyakkkk lagi tugas-tugas tak terlihat lainnya.

Memang, punya ART itu enaknya adalah sebagian besar tugas simsalabim beres seketika, dan emak lebih santai. Santainya kayak gimana sih? Ya emak punya banyak waktu buat melototin HP, nonton TV, dan tidur siang.

Gak enaknya (buat aku pribadi sih), bikin emak kadang-kadang abai (padahal bisa ngerjain tugas sendiri). Kami juga merasa gak begitu bebas di rumah sendiri, mau itu ART yang sistem kerjanya 8 jam sehari, atau 24 jam alias tinggal di dalam rumah.

Maksudnya gak bebas kalo ada ART itu gimana sih?

Nyaman gak sih mak cipika cipiki pipi suami istri di ruang keluarga, sementara ART seliweran kanan kiri? Kalo aku sih NO.

Nyaman gak sih mak pelukan sama suami sambil tiduran nonton TV, sementara ART ngepel di depan kita? Kalo aku sih NO.

Nyaman gak sih mak, ngobrol serius sama suami soal anggaran rumah tangga, masalah keluarga, masalah pribadi, dan hal-hal privacy lainnya, sementara ART bisa saja gak sengaja dengar atau malahan nguping? Kalo aku sih NO (lagi).

Alasan-alasan seperti ini lah yang bikin aku dan mas kompakan gak pernah mau ART tinggal bareng di dalam rumah, meski orang tua kami masing-masing, khususnya ibu dan mama mertua sering mencetuskan ide ini.

Kami mengerti maksud mereka baik, gak pengen anak perempuan/ menantunya keteteran merawat anak. Tapi, insya Allah dan alhamdulillah ibu dan mama mertua percaya sama aku dan support banget, akhirnya aku bisa menjalani semuanya sendiri. Lain cerita jika aku masih bekerja di luar rumah seperti working mom lainnya, maka kondisi-kondisi di atas bisa dipertimbangkan.

Aku sangat bersyukur karena suami sangat kooperatif. Gak semua kerjaan rumah kubereskan sendiri. Sebagian dibantu suami, seperti mengepel rumah, membersihkan halaman, membersihkan kamar mandi, bahkan tak jarang mas memandikan si kembar setiap pagi saat aku sibuk di dapur atau lagi jadwal ke pasar.

Pas weekend tiba, suami kadang melarangku memasak dan mengajak makan di luar atau go-food aja diantar ke rumah. Alhamdulillah juga, meski ngerjain semua sendiri, emak masih bisa ngeblog. Ini juga me time terbaik buatku.

Stay stress-free and try to be cheerful ya mak. Bu Elly Risman (psikolog anak) pernah bilang, ketika kamu tak mau bersusah payah mendidik dan mengasuh anak sejak kecil, kelak mereka akan menyusahkanmu di masa tua.

Kehilangan orang tua berarti kita kehilangan masa lalu, namun kehilangan anak berarti kita kehilangan masa depan. Jika kita tidak ingin kehilangan anak, maka berikan mereka pengasuhan terbaik, waktu terbaik, kenangan terbaik, dan kebiasaan  terbaik untuk mereka. Insya Allah semua ini menjadi ladang pahala untuk kita.

Advertisements

5 thoughts on “Dua Bulan Tanpa ART

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.