Darth Vader is Pregnant: Mudah Marah Saat Hamil

WhatsApp Image 2018-11-01 at 13.01.42.jpeg

Sisi gelap kehamilan itu adalah emosional dan marah. But, no one talks about it. Kebanyakan cuma cerita yang indah-indah saja. Cerita gak enaknya paling cuma seputar morning sickness, atau susah makan di trimester pertama. Memang, kalo lagi hamil katanya harus perbanyak berpikir positif, rileks, dan istirahat. Tapi, faktanya kan gak selalu begitu.

Of course, gak semua perempuan hamil mengalaminya (suka marah-marah). But I do. Di kehamilan kedua ini aku melalui hari-hari tak biasa, jauh berbeda dengan kehamilan pertama dulu.

Trimester pertama hamil si kembar aku disibukkan dengan morning sickness yang lebih gila dari hamil pertama dulu. Setiap hari pasti muntah dan itu berlangsung selama empat bulan.

Sebulan pertama trimester dua, kondisiku diperparah dengan emosi meningkat. Aku seperti gunung berapi yang udah level tiga dan siap meletus. Udah kayak Darth Vader lagi hamil (ya walau gak mungkin kan Darth Vader hamil) 😀 Aku suka marah, kadang gak rasional pada hal-hal kecil dan sometime itu sulit dikendalikan.

Mau nyalahin siapa? Hormon? Ya mungkin ada benarnya. Tapi, hormon-hormon itu mengendalikan naluri keibuanku ke arah yang salah. Aku tak hanya emosional pada diri sendiri, tapi juga suami dan anak. Tersinggung dikit aja langsung baper. Mending kalo bapernya nangis doang, tapi ini nangis plus ngomel dan mere-mere (baca: marah-marah).

Maetami, putriku yang masih dua tahun pun tak ketinggalan menjadi sasaran. Beberapa kali saat ibunnya tantrum, anaknya ikut tantrum. Pecahlah perang dunia ketiga. Pernah curhat ke ibu dan teman, jawabannya rata-rata sama, “Mae udah tahu tuh mau punya adek, jadi makin manja dan minta diperhatiin terus.” Heee.

Suatu malam, aku pernah memukul kaki Maetami (mukulnya gak pake tenaga kuda kok mak. Jadi gak harus dilaporin KPPA) 😀 Mae malam itu sangat rewel tidurnya, padahal dia gak sakit. Dua kali dia menangis, dan dua kali pula dia menendang perutku. Aku kesakitan. Dalam kondisi yang kompleks, campuran antara ngantuk, marah, dan nahan nyeri perut, tanganku refleks memukul kakinya. Hasilnya? Anaknya nangisssss.

Stresku bertambah mana kala papanya Mae kebangun dan ikut negur anaknya di tengah malam. Astaghfirullah, kalo kuingat lagi kejadian sama saat menuliskan cerita ini, sungguh sangat menyesal.

Akhirnya keesokan harinya telpon ibu dan ayah, nangis, bilang menyesal, dan sedikit ‘disemprot’ orang tua. Mau gimana lagi? Nasi sudah jadi bubur. Aku hanya bisa berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku ingat selalu pesan ayah, “Jangan menjadikan Mae obyek kemarahan.”

Kejadian gak enak pernah juga kualami saat bawa motor dan ingin menyeberang masuk gerbang kompleks rumah. Aku berteriak pada beberapa pengendara motor yang tak memberiku kesempatan untuk menyeberang meski lampu sen kanan sudah kunyalakan dan aku sudah menyeberang separuh jalan.

Suatu pagi di gang depan rumah, aku menghentikan motor dan turun sebentar membuka pintu pagar rumah. Sebuah mobil avanza hitam di belakangku mengklakson beberapa kali dan menurutku itu berisik, berlebihan. Apa dia gak bisa lihat aku sedang buka pagar? Apa dia gak bisa lihat perutku yang besar? Aku pun memarahi sopirnya. “Pak, gak bisa sabar sebentar, tunggu saya buka pagar dan parkir motor ke dalam? Ini gang rumah saya dan bapak gak tinggal di gang ini. Kalo bapak buru-buru, gak usah lewat sini,” kurang lebih begitulah kataku, dengan tampang wajah marah memerah.

Kejadian lainnya, saat istri minta tolong suami bawain beberapa barang turun dari lantai atas ke lantai bawah (karena istrinya pegal naik tangga terus). Begitu suami udah di kantor, siangnya istri baru nyadar suami lupa semua pesannya. Akhirnya istri bete, naik ke atas, trus bawa sekaligus piring kotor, gelas kotor, charger hp, tas ke bawah. Gak hati-hati, gak pegangan, dan akhirnya terpeleset dua anak tangga, gelas pecah satu. Untungnya perut gak apa-apa.

Sempat pengen nelpon si mas langsung sambal nangis dan marah. Tapi akhirnya tarik napas dan cukup kirim chat doang, itu pun masih dibawa bercanda biar emosi gak berlanjut.

Alhamdulillah suami sabar bener orangnya yaaaa. Pokoknya diiyain aja kalo istrinya lagi marah. Kalo si mas kepancing trus balik ngajak debat kan bisa makin kacau dunia persilatan 😀

Hal lain yang juga membuat emosiku naik turun sesungguhnya rasa takut menjalani kehamilan ini. Aku hamil anak kembar, laki-laki, dan pertama kalinya. Aku pernah keguguran dan kehilangan putra pertamaku saat masih menginjak lima bulan di kandungan. Cerita sedih itu membuatku makin stres.

Keluargaku, keluarga mas sangat mengharapkan kehadiran dua jabang bayi ini. Aku tersenyum gembira saat mereka gembira begitu mengetahui cucunya kembar dan laki-laki, kemudian mendadak tersenyum kecut dan muram membayangkan jika kehamilan ini gagal. Sedikit banyaknya ada rasa takut, mulai dari takut keguguran, takut bayinya tidak tumbuh normal, takut bayinya prematur, takut salah satu atau kedua bayinya bermasalah saat dilahirkan, banyak lagi. Rasa takut mengecewakan semua orang, membuat sedih semua orang, ini paling utama. Doa, ngaji, zikir, menghibur diri, semua hal akan kulakukan demi menghapus semua kekhawatiran ini.

Begitulah. Ibu hamil itu gak cuma bisa gembira doang. Kami juga bisa cemas, khawatir, dan marah. Tolong maklumi kami, dan jangan berbalik merespons kami dengan emosi negatif, terkhusus buat para suami.

Kalo suami ikut-ikutan marah, istrinya bakal lebih emosian lagi. Yang jadi korban siapa? Ya dua-duanya, plus anak. Mending kalo istri lagi gak mood, kasih waktu si emak introspeksi diri dan me time sendiri, bawa anak sedikit menjauh dan ajak main. Jangan pula suami malah kabur menghindar, ninggalin istri sama anak. Kekeke. Sekarang, yang jadi pertanyaan, bisa gak sih marah itu dikelola? Sebenarnya bisa, misalnya dengan jurus 5R ini.

1. Rest (Istirahat)

Ini sengaja kutempatkan di urutan pertama karena memang inilah pangkal dari semua emosiku di kehamilan kedua ini. Aku masih berstatus istri dan ibu pekerja. Jika dulu saat hamil Mae aku belum ngurusin anak, beda dengan hamil si kembar yang kedua ini. Aku tak hanya harus menjaga janin di perut, tapi juga bayi dua tahun.

Profesiku sebagai jurnalis mengharuskanku terjun langsung ke lapangan. Meski intensitasnya tidak setiap hari, namun level stresnya tetap sama karena kondisiku yang sedang mengandung. Istirahat menjadi sangat mahal. Jarang sekali aku bisa tidur siang karena harus berpacu dengan waktu menyelesaikan kuota berita.

Bagi yang bernasib sama, semoga Anda lebih bagus memanajemen jam istirahat siang ketimbang saya ya. Hehehe.

Istirahat dasar ibu hamil itu bagiku adalah tidur siang minimal 20-30 menit (kalo bisa sih 1 jam). Hindari duduk terlalu lama. Usahakan melakukan gerakan peregangan yang simpel, khususnya kaki setelah duduk lebih dari satu jam. Tidur malamnya usahakan berkualitas, 7-8 jam. Ini sangat membantu mempertahankan energi dan meminimalisir emosi yang fluktuatif.

2. Recharge (Makan cukup)

Ingat gak kalimat, “Logika tanpa logistik gak bakal jalan.” Itu berarti otak gak bakal sinkron kalo perut lagi lapar.

Janin yang tumbuh di dalam perut itu benar-benar menguras energi, apalagi kembar. Makan tepat waktu, ngemil yang cukup adalah pilihan tak terelakkan. Jangan lagi mikirin berat badan kalo lagi hamil. Pastikan asupan nutrisi yang diterima jabang bayi cukup dan berasal dari makanan sehat.

3. Reconnect (sama suami dan anak)

Ibu hamil jangan terlalu sibuk sama bayi di perut, trus lupa sama suami dan anak. Luangkan waktu untuk bersama mereka setiap hari, dan lebihkan jamnya di akhir pekan. Momennya kapan? Bisa satu jam sebelum tidur, satu jam di pagi hari sebelum ngantor, menemani anak bermain di siang atau sore hari.

4. Remove (hindari konflik dan stres)

Cobalah sebisa mungkin menghindari hal-hal yang bisa memicu konflik dan stres. Konflik yang dimaksud berlaku untuk orang-orang dekat kita di rumah, terutama suami dan anak.

Bayi dua tahun seperti Mae lagi aktif-aktifnya. Setiap hari ada saja membuat ulah yang memicu emosi. Mau gak mau, suka gak suka, aku harus melakukan pendekatan berbeda menghadapinya.

Sumber stres ibu hamil itu kebanyakan ada di rumahnya sendiri. Mulai dari pusing lihat rumah yang berantakan, malas masak, kecapean, dan kelakuan anak. Kalo stres lihat rumah berantakan, tinggalkan saja dulu, bawa tidur, dan kerjakan begitu badan udah segaran. Untuk urusan rumah aku sangat jarang stres, karena alhamdulillah ada Mba Yani yang bantu-bantu. Tapi, aku sempat kelabakan juga waktu si mba cuti dua hari karena sakit. Akibatnya? Ya marah-maraaaaah lagi.

Malas masak? Yes, sering. Solusinya? Aku pergi ke warteg dekat rumah, beli sayur dan ikan, tinggal masak nasi doang. Kasih tahu suami bahwa hari ini gak bisa masak karena lagi gak mood, atau lagi kecapean, atau lagi malas. Suami yang sayang istri pasti mengerti. Hehehe.

5. Release (lepaskan)

Lepaskan di sini lebih ke meredakan emosi yang negatif. Berceritalah kepada suami, sahabat, orang tua, atau orang terdekat. Sering kali aku chat sama ayah, atau telepon ibu jika mulai baper dan emosian. Nge-blog seperti ini juga cukup membantu mengendalikan perasaan negatifku.

I know, there are lots of pregnant women who are mad at the world, just like me. Feel free kalo ada yang mau ngeshare pengalamannya di sini, terutama memanajemen emosi saat hamil. Semoga bisa saling membantu. Tetap semangat yaaa bumil-bumil setrong. Happiness is on the way 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Darth Vader is Pregnant: Mudah Marah Saat Hamil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s