Pendiri Suryani Institute for Mental Health, Luh Ketut Suryani: Kampanyekan Indonesia Bebas Pasung

qJkYklEL_400x400

Luh Ketut Suryani sering disebut profesor ‘gila’ karena gagasan-gagasannya yang tidak umum. Di usianya yang tak lagi muda, perempuan pejuang dari Bali ini berjuang membebaskan orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari hukum pasung yang masih banyak dilakukan masyarakat, termasuk di Tanah Kelahirannya.

Tiga belas tahun sudah Suryani bersama relawannya melepas belenggu pasung ODGJ di berbagai pelosok Pulau Dewata. Bagaimana kisah dan perjuangannya? Berikut wawancara saya bersama Profesor Ahli Jiwa Universitas Udayana sekaligus Pendiri (Founder) Suryani Institute for Mental Health (SIMH) ini di Denpasar beberapa waktu lalu. 

Faktor apa saja yang menyebabkan seseorang berpotensi gangguan jiwa?

Setiap orang berpotensi gangguan jiwa, meski hanya satu persen. Berdasarkan pengalaman kami, yang mempercepat proses terjadinya gangguan jiwa adalah pola asuh waktu kecil. Kedua, perundungan (bullying) di sekolah, mulai dari TK sampai SMP.

Apa saja motif masyarakat yang memasung ODGJ?

Masyarakat memasung karena putus asa, karena ODGJ ini dianggap membahayakan. Awalnya saya kira motifnya itu saja. Namun, belakangan saya menyadari ada banyak alasan pihak keluarga memasung anggota keluarga mereka yang mengalami gangguan jiwa.

Tidak semua keluarga ternyata ingin menyembuhkan anggota keluarganya yang gangguan jiwa. Justru ada yang ingin mereka yang sakit jiwa cepat meninggal, motif untuk mendapat warisan, motif karena sudah tidak peduli lagi. Jadi, tidak semua alasan mereka memasung karena takut.

Bagaimana kondisi mereka yang dipasung?

Kami menemukan banyak dari mereka yang kondisinya amat memprihatinkan. Tubuh mereka dipasung, kaki dan badan menjadi satu, mereka tak bisa bergerak, lingkungan sekitar mereka sangat bau dan kotor, bahkan ada yang memakan kotorannya sendiri sebab tak ada yang mengurus.

Secara statistik, seperti apa kondisi ODGJ di Indonesia, khususnya Bali?

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mengambil populasi rumah tangga di 497 kabupaten kota di 33 provinsi. Prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia adalah 1,7 permil. Gangguan jiwa berat terbanyak ada di Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah. Proporsi rumah tangga yang pernah memasung anggota keluarga mereka yang divonis gangguan jiwa berat adalah 14,3 persen dan terbanyak adalah penduduk yang tinggal di pedesaan.

Riskesdas Provinsi Bali 2013 menunjukkan prevalensi gangguan jiwa berat di Bali rata-rata 2,3 orang per mil wilayah. Prevalensi terbesar berada di Kabupaten Jembrana (3,3 orang per mil), Tabanan (3,2 orang per mil), dan Badung (2,5 orang per mil).

Survei Suryani Institute for Mental Health yang pernah kami lakukan menunjukkan terdapat lebih dari sembilan ribu orang dengan gangguan jiwa di seluruh Bali dan 350 orang di antaranya dalam kondisi terpasung. Kami telah membebaskan 90 orang di antaranya dari praktik pasung, dan lebih dari seribu orang disembuhkan dengan pendekatan mind, body, spirit-sosio cultural process.

Pendekatan mind, body, spirit-sosiocultural process itu seperti apa?

Selama ini konsep yang digunakan pemerintah menangani pasien gangguan jiwa di Indonesia adalah hospital-based. Jika ada orang yang mengalami gangguan jiwa berat, maka kirim dia ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) untuk diobati.

Apa yang terjadi setelah itu? Pasien dikirim bolak-balik dan akhirnya tinggal di rumah sakit. Rumah sakit bagaikan rumah baru untuk mereka.

Kami melihat contoh kejadian di Kabupaten Bangli di mana orang yang dibebaskan dari pasung dikirim ke RSJ Bangli. Berapa lama mereka tinggal di sana? Minimal lima tahun, maksimal seumur hidup. Apakah mereka harus terus diungsikan seperti itu di rumah sakit? Padahal mereka memiliki tempat tinggal dan keluarga.

Pendekatan mind, body, spirit-sosio cultural process ini berbasis komunitas (community-based). Penanganannya tak hanya dari sisi medis, namun juga melibatkan keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Ini sudah kami praktikkan di Buleleng. Di sana kami melibatkan kepala desa dan ternyata banyak yang hasilnya bagus. Di Jembrana, kami menerapkan konsep sama, bahkan melibatkan polisi dan tentara untuk membebaskan mereka yang dipasung karena gangguan jiwa dan ditangani dengan konsep ini.

Saat ini kami sedang praktikkan di Blahbatuh, Gianyar. Sebanyak 26 pasien gangguan jiwa berat dirawat di rumah. Keluarganya dididik, terutama diajarkan tanda-tanda pasien akan kambuh. Masyarakat dan kepala desa dilibatkan sebagai relawan, mulai dari sekaa teruna dan sekaa teruni, sebutan untuk karang taruna di Bali.

Sebagian dari pasien sekarang tak lagi dipasung, bahkan mereka bisa berjalan sendiri di lingkungannya tanpa ada aksi mengamuk. Dukungan masyarakat di sana sungguh luar biasa. Mereka memelajari apa saja ciri-ciri gangguan jiwa yang kambuh, seperti susah tidur, suka melamun, tidak mau makan. Jika tanda-tanda seperti ini sudah terdeteksi, maka keluarga bisa langsung memberikan obat atau kontrol.

Apakah pendekatan ini lebih mudah dan murah?

Metode ini paling murah. Jika pasien terus diopname di RSJ pemerintah selama ini menghabiskan sekitar tiga juta rupiah per orang per bulan untuk obat. Kami cukup lima juta rupiah untuk satu tahun.

Bagaimana evaluasi dari penerapan pendekatan ini?

Kami mencobakan pada banyak pasien. Mereka menerima injeksi satu bulan di rumah sakit, kemudian bisa dipulangkan setelah tiga bulan. Sayangnya ini tidak diterima sepenuhnya di negara kita.

Kami melihat begitu banyak orang gila di negara ini. Apakah mereka seluruhnya harus dimasukkan ke RSJ? Berapa banyak rumah sakit dan tempat rehabilitasi yang dibutuhkan? Siapapun bisa gila, bukan hanya satu dua orang. Kita pun bisa gila jika tak tanggap menghadapinya. Oleh karenanya masyarakat dan keluarga perlu disiapkan.

Semua bisa dilakukan di rumah bersama keluarga dan masyarakat. Masyarakat perlu tahu bahwa menaruh ODGJ di RSJ itu hanya sementara, bukan seumur hidup. Jika kondisinya tak gawat, jika masih bisa ditangani, cobalah perawatan di rumah.

Yang kami lakukan, pasien tetap di rumah dan mereka diberi pengobatan di sana. Kami beri injeksi dengan obat beberapa waktu dan dia akan mengalami perubahan cepat. Setelah terjadi perubahan, dosis obat diturunkan. Kami beri dia kepercayaan dari sisi spritual effect. Kami dari psikiater mengajarkan juga mereka bermeditasi.

Sakit jiwa itu bukan penyakit seumur hidup yang tak bisa disembuhkan, sama dengan flu, bisa muncul dan sembuh kapan pun. Mengapa flu bisa diterima, sementara gangguan jiwa tidak?

Anda juga menangani ODGJ di Bali menggunakan pendekatan agama. Caranya?

Bali mayoritas Hindu dan masing-masing desa itu punya balian. Balian adalah penyehat tradisional yangsudah praktik turun temurun dan sudah mendapat kepercayaan masyarakat Bali pada umumnya. Balian bisa membantu pasien melukat, atau upacara pembersihan pikiran dan jiwa secara spritual.

Sedikit banyaknya ini bisa membantu membuat pikiran dan perasaan mereka terbebas dari beban. Intinya gunakan sumber daya yang ada di masyarakat. Di sisi lain, pemerintah tetap menerjunkan timnya untuk membantu.

Pesan untuk pemerintah?

Jika pemerintah ingin mendidik masyarakat, ajari masyarakat untuk mengenal dan mengetahui penanganan ODGJ yang benar. Tak perlu alergi, tak perlu takut, bantu mereka, sehingga tak perlu ada banyak RSJ atau pusat-pusat rehabilitasi di Indonesia.

Saya kurang sependapat dengan program pemerintah melalui Dinas Sosial yang akan membangun tempat-tempat rehabilitasi untuk pasien gangguan jiwa di setiap kecamatan. Pasien-pasien ini semuanya mempunyai rumah dan tempat tinggal, kecuali memang mereka tak memiliknya, baru dibuatkan rumah.

Bagaimana perbandingan orang dengan gangguan jiwa yang dipasung berdasarkan gender?

Dari hasil survei yang kami lakukan di Bali, kebanyakan mereka yang dipasung adalah laki-laki. Namun, ini sifatnya tidak baku. Laki-laki perempuan sama saja.

Berapa lama dan bagaimana tingkat penyembuhan berbasis komunitas ini?

Jika ditangani dengan baik, orang dengan gangguan jiwa ini bisa sembuh hingga 90 persen dalam waktu satu tahun. Berdasarkan pengalaman kami, ternyata mereka semua bisa sembuh normal.

Kami berharap kita harus cepat dan awas. Pertama, tangani pasien dengan bagus. Semua orang punya kans mengalami gangguan jiwa.

Kendala apa saja yang dihadapi di lapangan?

Kendala yang kami hadapi, waktu mendata, hampir semua keluarga menolak. Mereka sebagian tidak mengakui ada anggota keluarganya yang gangguan jiwa. Relawan kami pun menggunakan berbagai cara, khususnya menawarkan pengobatan.

Kendala lainnya juga ada. Pasien kami yang sudah kami nyatakan sembuh dan tidak mengonsumsi obat lagi, sering kali masih dikumpulkan dan digabung dengan pasien-pasien dengan gangguan jiwa yang didata pemerintah, baik itu pusat dan daerah. Jadi, ini kesannya seperti ‘rebutan lahan.’

Mengapa pemerintah harus bersaing dengan kami? Jika kami masuk, sementara Dinas Kesehatan juga masuk menangani pasien yang sama, yang dikasihani adalah pasiennya. Penanganan saya dan mereka sangat berbeda. Mereka (Dinas Kesehatan) tetap menginginkan penerapan obat, sementara kami tidak ingin pasien terus bergantung pada obat.

Mana saja daerah dengan kasus bunuh diri terbanyak di Bali?

Pada medio 2000-2006, kasus bunuh diri terbanyak di Bali terjadi di dua kabupaten, Buleleng dan Karangasem. Penyebab utama bunuh diri paling umum adalah gangguan jiwa berat dan depresi. Mula-mula survei kami menemukan 895 orang dari 400 ribu penduduk mengalami gangguan jiwa. Setelah kami sensus, jumlahnya menjadi dua kali lipat.

Pada 2009, saya mendapat dana dari pemerintah provinsi untuk penanganan ODGJ. Kami mencari 326 pasien, dan ternyata di lapangan ada 685 pasien. Setahun kemudian, 2010, dana tak lagi kami terima.

Bagaimana Indonesia dan dunia melihat praktik juga riset yang Anda lakukan?

Kami berulang kami menyampaikan konsep pengobatan berbasis komunitas ini ke tingkat nasional, namun cara ini bertentangan dengan aturan berlaku. Aturan menyebutkan kami tak boleh mendatangi pasien, melainkan pasien yang datang ke tempat praktik. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) juga aturannya begitu.

Kondisinya, kami sekarang hanya buka tiga tempat praktik. Masalahnya, tidak semua pasien bisa dibawa, bahkan sebagian besar dari mereka tak punya uang. Oleh sebab itu saya bergerak sendiri, dan saya katakan Tuhan yang membantu dan mendukung kami.

Dunia menyambut metode ini. Belum ada negara yang melibatkan masyarakat dalam pengobatan ODGJ, hanya Indonesia, yaitu di Bali.

Jika terus menerapkan hospital-based, keluarga tak akan pernah tahu bagaimana cara menangani anggota keluarganya yang gangguan jiwa. Jika keluarga tak ikut, bagaimana mereka bisa membantu jika sewaktu-waktu penyakit anggota keluarganya kambuh? Mereka tentu tak bisa mendeteksi tanda-tanda dini penyakit ini kambuh.

153847469

Menjembatani Ilmu Medis danMeditasi

Profesor Suryani jauh sebelum bergelar dokter dari Universitas Udayana telah lebih dulu menjadi ahli meditasi sejak usia belasan tahun. Meditasi yang dikembangkan Suryani bersifat universal, tanpa terjebak dalam sekat agama atau aliran kepercayaan tertentu. Dia menjembatani ilmu medis dan meditasi dengan menjadikannya sebagai teknik pencegahan penyakit, bukan pengobatan utama.

Pada 2005, beberapa eks-muridnya terdahulu yang menjadi staf di Universitas Udayana memintanya untuk ‘turun lapang’ kembali mengembangkan konsep yang telah digelutinya puluhan tahun. Suryani mengatakan dia bersedia jika seluruh residennya lulus menjadi psikiater.

Perempuan kelahiran 24 Agustus 1944 ini membaca di berbagai media dan mengumpulkan data banyak sekali tentang angka bunuh diri. Dia pun menangani satu demi satu.

“Praktik dengan pendekatan mind, body,spirit-sosio cultural process ini juga saya terapkan mulai dari keluarga, sehingga saya bisa melahirkan dan membesarkan anak-anak yang luar biasa,”ujarnya.

Nenek dari 22 cucu ini percaya konsep yang diusungnya tak hanya digunakan untuk pasien gangguan jiwa, melainkan juga diterapkan untuk menyiapkan generasi barusejak lahir hingga dewasa. Meditasi akan melindungi badan dan pikiran dari hal-hal yang diangap mencelakai, sehingga seseorang tetap bisa tenang ketika mereka mengetahui bahwa dirinya tak akan mengalami hal-hal yang tak bisa ia tangani.

Ini persis seperti membuat mekanisme keamanan dalam pikiran manusia. Ketika seseorang menghadapi hal-hal sulit, dia siap merasakannya. Manusia pun bisa menjadi lebih bijaksana dari yang dia sadari.

Banyak orang dalam kesehariannya terpaku pada penyelesaian masalah berdasarkan logika, sehingga terkadang kesulitan mengatasi permasalahan di luar logika. Ini karena mereka jarang melatih spirit mental dan fisiknya.

“Meditasi ini tidak sama dengan magis atau hal-hal berbau mistis. Ini bisa digunakandalam keseharian kita,” ujarnya.

Suryani Institute
Republika Edisi Rabu, 27 Juni 2018

 

Advertisements

3 thoughts on “Pendiri Suryani Institute for Mental Health, Luh Ketut Suryani: Kampanyekan Indonesia Bebas Pasung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s