Denpasar Mum Food Market: Tempat Jajanan Tradisional Naik Kelas

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.38 (1).jpeg

Suatu sore di akhir pekan kami sekeluarga mampir di tempat cuci mobil sekitar Jalan Mahendradata, Kota Denpasar. Hari itu kebetulan long weekend. Tempat cuci mobil penuh gara-gara banyak mobil, tapi karyawannya pada cuti. Alhasil kami harus menunggu dulu satu jam.

Iseng-iseng kami jalan kaki sebentar sekitar 50 meter dari sana, sambil menunggu mobil selesai dibersihkan. Ada tempat makan baru dibuka akhir 2016, tapi belum sempat kami kunjungi. Namanya Denpasar Mum Food Market (DMFM), demikian kalo kamu searching peta lokasinya di Google Maps, tepatnya di Jalan Mahendradata Nomor 100. Tulisan yang tertulis di jalan masuknya adalah Food Market dan Food Garden. Parkirannya luas.

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.46.jpeg

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.42.jpeg

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.36.jpeg

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.37.jpeg

Ada sekitar 16 kios makan yang bisa jadi pilihan kamu. Rata-rata menjual makanan tradisional dengan harga sangat miring. Misalnya nih Warung Surabaya Cak Gus yang menyajikan menu soto ceker dan soto ayam dengan harga 12k per porsi. Warung ini juga menjual rawon dengan harga 18k per porsi. Nasi goreng gule kambing di sini sudah bisa kamu santap cukup dengan merogoh dompet 20k saja.

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.44 (1).jpeg

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.32.jpeg

Kangen kuliner Bandung? Kamu bisa mampir ke Warung Raoz dan menikmati batagor, siomay, dan cilok dengan harga kurang dari 10k hingga belasan ribu rupiah. Cuma mau makan bubur ayam, tapi suasananya pengen kayak di kafe? Ada juga kiosnya di sini.

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.33.jpeg

Nah, kali ini kami memilih mampir di Depot Ojie Asli (DOA), spesialis masakan Medan. Mataku tertuju pada menu Mie Kocok Medan yang dijual 18k per porsi. Ah, rasanya sudah lama tidak makan itu. Pak suami memilih Nasi Goreng Medan dan minumannya es cendol. Kami juga memesan seporsi empek-empek untuk dinikmati bersama.

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.39.jpeg

Mie kocok Medan di depot ini menurutku gak spektakuler banget, tapi ini tuh enak loh. Kami bisa keringatan melahap habis mienya, cukup membangkitkan nostalgia makan mie kocok di Sumatra. Hehehe. Suami juga bilang nasgornya enak banget. Porsi gede juga abis sama dia.

Kamu gak perlu geser ke emol (baca: mall) kalo pengen move on dari makanan tradisional ke Japanese atau Korean food. Persis di samping Depot Ojie, ada Hot Box. Aneka menu Korea, seperti Korean sauce chicken rice bowl (19k), salted egg dory rice bowl (19k), dan dagangan andalannya nih jangan lupa dijajal, peri-peri barbeque chicken yang dibanderol 30k. Menu ini kabarnya paling banyak dipesan di lokasi juga via aplikasi Go Food.

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.38.jpeg

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.45 (1).jpeg

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.45.jpeg

Gak jauh dari Hot Box, ada Arkenzi Sushi & Ramen, tempat kamu bisa nyobain ramen dan sushi khas Jepang. Harganya jangan ditawar lagi ya, udah murah banget buk, mulai dari 15k sampai 30k. Duuuh, ini restoran pas banget didatangin kalo akhir bulan alias sebelum gajian. Hihihi.

Kamu bisa sekalian foto di depan torii-nya Arkenzi. Torii itu sebutan untuk gerbang tradisional Jepang yang sering ditemukan di pintu masuk kuil dengan cat merah dan palang atas berwarna hitam.

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.31.jpeg

WhatsApp Image 2018-04-27 at 17.33.30

Tepat di tengah-tengah lapangan DMFM, sebuah pentas disediakan untuk musisi-musisi lokal yang mau manggung. Yups, DMFM khususnya pas weekend biasanya selalu ada live music. Tempat ini memang khusus untuk kuliner malam hari yang buka jam 6 sore dan tutup jam 12 malam, seperti pasar malam gitu, meski beberapa kios sudah buka sejak jam 11 siang.

DMFM membuktikan bahwa yang namanya enak itu gak selalu mahal. Buat kamu yang tetap pengen nongkrong cantik di tanggal tua, tapi dompet udah tipis banget, gimana caranya? Datang aja ke DMFM.

Ini adalah pusat kuliner yg bikin semua jajanan pinggiran Nusantara dan luar negeri naik kelas, mulai dari Bandung, Surabaya, Medan, Jakarta, Jepang, Korea, dan Western. Makanan tradisional di sini tidak dijual ala angkringan, warung pinggiran, atau pake gerobak sorong, melainkan di tempat cantik bernuansa kafe. Kapan lagi nongkrong di kafe tanpa perlu nguras kantong? 😀

Istimewanya DMFM adalah semua meja makan out-doornya ada colokan listrik. Jempollllll. Gak heran jika banyak ‘fakir colokan’ mampir dan makan di sini. Tempat ini cocok buat kamu yg mau meeting, ngerjain tugas kuliah, arisan, ngedate, atau ngumpul sama teman-teman.

DMFM juga pas buat jadi co-working space, seperti kamu yang kerjanya freelance atau remote office, mulai dari penulis, jurnalis kontributor, admin medsos, pengembang website, dll. Much better dibanding pujasera di Renon or Teuku Umar.

Menjauh dari Sinabung

Sayang rasanya tidak menuliskan sisipan cerita ini. Depot Ojie Asli tempat kami makan dikelola dua orang, yaitu Bu Atie dan adiknya Pak Ojie. Karena kami satu-satunya pengunjung DOA siang itu, Bu Atie tiba-tiba nyamperin dan kita pun bertukar cerita.

Bu Atie adalah warga asli Berastagi yang tinggal di Kabanjahe, Sumatera Utara. Beliau mengungsi ke Bali bersama tiga anaknya enam tahun lalu sejak Gunung Sinabung meletus, meninggalkan rumah dan kampung halaman yang sampai hari ini masuk ke dalam zona merah.

Pak Ojie kebetulan sudah lebih dulu merantau ke Bali karena beristrikan orang Banyuwangi. Dia pun mengajak sang kakak untuk tinggal bersamanya sambil menunggu Gunung Sinabung kembali normal. Kebetulan Bu Atie jago masak, akhirnya mereka diajak untuk membuka salah satu kios di DMFM melalui perkenalan dengan seorang teman.

Meski mendulang penghasilan menjanjikan di Denpasar, sulit sekali Bu Atie melupakan kampung halamannya. Dia sempat kesulitan beradaptasi dengan cuaca Bali yang sangat panas, sebab di Berastagi cuacanya sangat dingin dan sejuk. Semoga bencana Sinabung segera berakhir dan Bu Atie bisa kembali berkumpul bersama keluarganya di kampung.

Bali dan ‘makan’ emang tak terpisahkan. Tak heran jika tempat-tempat makan dan restoran baru terus bermunculan di Pulau Dewata, meski jumlahnya sudah menjamur. Bagi mereka yang kreatif dan jago branding, bisnis kuliner apapun pasti bakalan sukses, seperti DMFM ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s