#14HariBercerita

5fee80a8bb71a9341225ce9624b9f5d6

Februari selalu istimewa. Tanggal 14 bulan ini, aku dan mas genap empat tahun menikah. Kalo kata orang sih, angka segini masih level tiarap 😁 Bingung mau bikin momen apa buat jadi kenang-kenangan di tahun keempat ini, dan akhirnya terlintas bikin #14haribercerita di Instagramku @muthe_bogara

#1 Dari Facebook Turun ke Hati

5fee80a8bb71a9341225ce9624b9f5d6
1 Februari 2018

Kami pacaran lima bulan di 2013 sebelum bertunangan dan menikah. Awalnya kami kenalan lewat Facebook, eh tahunya jodoh. Kupikir medsos itu cuma ajang pertemanan. Bisa jadi dua orang kemudian pacaran, tapi ujungnya putus. Apalagi, mas di Kupang, aku di Jakarta. Kurasa kalaupun kami berhubungan serius, tak akan bernasib mujur.

Pas awal-awal chatting dengan mas, aku merasa seperti Amane di dorama Jepang jadul judulnya With Love. Ada yang pernah nonton? Amane ini suatu hari tanpa sengaja berkorespondensi lewat email dengan Takashi. Ini kan filmnya zaman 1990-an, jadi email waktu itu masih tergolong baru. Mereka cuma komunikasi lewat email dengan segala riak kisah di dalamnya, and they get together already 😉

Satu bulan chatting, temanku yang bernama Rifki ini ngabarin dia mau ke Jakarta dan ngajak ketemuan. Akhirnya, kami jumpa juga di Mall Taman Anggrek.

Rifki ternyata tak sekadar mengenalku lewat FB. Belakangan kutahu dia anak sulung dari Pak Indra, sosok yang banyak membantuku ketika penelitian skripsi di Gunung Marapi, Bukit Tinggi. Beliau kebetulan alumnus IPB juga dan mengepalai BKSDA Sumbar.

Allah mungkin tersenyum untuk kami sejak itu. Hari kedua, Rifki minta aku menemaninya ke Pasar Kenari di Kramat Raya. Alasannya sih gak tahu persis lokasinya, apalagi Transjakarta masih baru dan rute-rute transitnya membingungkan.

Sebagai wartawan yang kesehariannya liputan pake Transjak, ya hapal dong. Kami pun janjian ketemu di Halte Harmoni. Ini orang ngapain ke pasar kabel? Pikirku. Ternyata Rifki mau beli beberapa alat dan perangkat jaringan buat kerjaannya di Kupang.

Dua hari pertemuan kami menurutku biasa aja, tapi kuyakin buat Rifki itu luar biasa #ehem. Buktinya? Gak nyampe 10 hari setelah pulang ke Kupang, temanku ini langsung ngomong serius dan ngajak nikah 😃

#2 Lamaran Gak Romantis

e150a29ebcc9c81167aa57270d08c569
2 Februari 2018

Gak banyak hal yang membuat kami memutuskan menikah setelah lima bulan pacaran. Pertama, usia kami nyaris kepala tiga. Mas 28 tahun dan aku 27 tahun. Klise sih, tapi ya emang gitu 😆 Kedua, mas sudah punya pekerjaan tetap, aku pun juga. Ketiga, kita berdua sama-sama mikir kalo pacaran gak mau lama-lama. Kalo udah ketemu, cocok, ya langsung menikah.

Mengenal pasangan sebelum menikah sekadarnya saja. Menuntut seseorang terlalu sempurna gak akan ada habisnya. Dan lagian, bukankah aku juga bukan wanita sempurna? Menikah itu berproses, bukan seperti beli furniture ruang tamu di IKEA yang terima jadi.

Prinsipku sederhana, lihat keluarganya, lihat teman-temannya, lihat lingkungannya. Jika dia dikelilingi orang-orang baik, insya Allah dia juga calon suami yang baik. Alhamdulillah terbukti.

Ngomong-ngomong soal pernikahan, tentu aja bahas lamaran. Lamaran ala kami gak romantis seperti di film-film Hollywood, pake gaya bersimpuh trus dengar kalimat, “Would you marry me?” 😆 Gak banget. Wong mas ngelamarnya via telepon kok.

Tapi aku masih ingat betapa menegangkannya waktu mas nelepon dari Kupang malam itu. Level tegangnya ngalahin sidang skripsi kelulusan di hadapan tiga profesor di Fahutan IPB😓

Aku baru saja pulang kerja dari kantor. Jam delapan malam itu rencananya sampai kosan aku mau nonton TV, ada live pertandingan sepak bola Indonesia X Belanda. Baru mau masuk kosan, masih menggeret sepedaku, mas telepon, katanya dia minta waktu mau ngomong serius. Singkat cerita dia memintaku menjadi calon istrinya setelah kami hanya blind date 2 hari di Jakarta dan komunikasi berikutnya hanya berlanjut di dunia maya (baca: Facebook, skype, black berry messanger)

Gila ni cowok, pikirku. Akupun menantangnya menyampaikan hal sama pada ayah ibu. Berani gak ngomong ke ayah? Eh, mas malah minta nomer HP ayah trus bilang, lebaran tahun ini (sekitar 1,5 bulan kemudian) datang menemui keluargaku di Sumbar.

Belum sempat ke kamar, aku langsung balik kanan ke kosan Teh Ririn, sosok yang sudah kuanggap kakak di Jakarta. Teh Ririn keluar, aku langsung memeluknya. Is it a dream? No, it’s real.

#3 Nge-date Setelah Tunangan

047e24982d0841236b01479c1a5c56c4.jpg
3 Februari 2018

Singkat cerita kami akhirnya bertunangan setelah mas beneran ke rumah bersama keluarganya pas lebaran. Kami memilih Jakarta karena berazaskan keadilan 😆 Seyogyanya sih tunangan di rumah anak perempuan. Namanya juga mau mengkhitbah. Eaaa. Tapi karena emang aku dan mas orangnya gak mau ribet, dan keluarga kami ini udah kayak anak ayam nyebar sana sini, akhirnya Jakarta is the best option.

Ayah ibuku datang dari Sumatra Barat, mas dari Kupang, sementara mama dan papanya dari Banyuwangi. Adik-adik kami memang berdomisili di Jakarta dan Bogor, hanya adik kedua mas yang datang dari Singapura. Untungnya mas orangnya gak neko-neko. Pokoknya “iya, iya” aja mah dia orangnya 😄

Omah Pincuk di Pejaten, Pasar Minggu menjadi awal kami mengikat janji, Sabtu, 2 November 2013. Kenapa di sana? Soalnya dekat kosanku 🤣 Acara tunangan ini lebih tepat kusebut acara makan siang, tapi tak mengurangi maknanya.

Tunangan kami dihadiri beberapa anggota keluarga. Tanggal pernikahan pun ditentukan, 14 Februari 2014 atau dua bulan kemudian. Kebayang kan? Nyiapin pernikahannya seriweuh apa, dengan kondisi kami masih bekerja 😭 Semua serba kilat udah kayak bus kejar setoran.

Kalo dipikir-pikir, kami ini gak pernah malam mingguan selama pacaran. Nge-datenya itu justru setelah tunangan, itu pun cuma sekali karena mas lagi ada kerjaan di Bandung😧

Aku dan mas banyak bedanya kalo soal selera. Tapi kalo kebetulan lagi bareng, sampai sudah menikah sekalipun, yang namanya BIOSKOP selalu mempersatukan kami 😊 Selama delapan bulan jarak waktu pacaran ke nikah, aku dan mas cuma ketemuan langsung empat kali. Kebayang kan? Pacarannya justru setelah nikah.

Nge-date pertama di Mall Taman Anggrek, main ice skating trus makan udon bareng. Nge-date kedua sekaligus nobar perdana di Mall Pejaten Village depan kantorku. Filmnya Thor: The Dark World.

Nge-date ketiga di Blitz Cinema Plasa Semanggi, nonton film Captain Phillips lanjut Transformer. Nge-date keempat itu abis tunangan di Trans Studio Mall Bandung, nonton animasi Frozen.

Sebenernya kita itu tunangan atau teman nonton doang sih mas? 🤣

#4 Baralek Gadang

9207035a78e09a8cd93aa688686f97d8
4 Februari 2018

Acara nikah digelar adat Minang dan Sunda. Aku dan mas pada dasarnya tak inginkan resepsi besar sebagaimana tunangan kami yang sederhana. Tapi ya, namanya juga orang tua. Ayah ibu bilang, anaknya cuma dua, dan aku putri satu-satunya. Mereka mau resepsi tetap digelar di rumah demi momen sekali seumur hidup 😁

Setiap kita memiliki pandangan berbeda soal pesta pernikahan. Masing-masing kita punya niat, dan selama tidak menyalahi syariat, why not? Yang jelas tujuannya harus karena Allah SWT demi membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Menikah itu bukan cuma ‘pengennya’ aku dan mas, tapi juga dua keluarga kami. Trying to make everyone happy. Gak asik kan? Kalo di hari bahagia kita ada wajah-wajah sedih? 🤗

Nikahan di Sumatra Barat gak kayak di Jakarta. Orang Minang punya istilah ‘Baralek Gadang.’ Adat pernikahan kami digelar tiga hari, 13-15 Februari 2014. Acara didahului pengangkatan gelar adat untuk mas di Padang Panjang, akad nikah dan pesta keluarga, baru masuk ke resepsi untuk umum.

Resepsi digelar di rumah mempelai wanita. Rumah di kampung beda sama di kota. Halamannya luas, bisa bikin tenda sendiri, jumlah tamu yang diundang bisa sesuka hati. Yang pasti persiapannya lebih ekonomis dan gak pake meringis 😄

Pesta pernikahan itu, kalo boleh jujur nih, MELELAHKAN sodara-sodara. Kebayang kan? Sejak jam sembilan pagi kami bersanding di pelaminan sampai jam 10 malam. Baju pernikahan pertama kebaya Sunda, trus siang diganti suntiang emas baju merah, malamnya suntiang emas baju kuning. Ya Allah, untungnya mempelai wanita gak pake acara pingsan.

Belum lagi jadi manten itu harus berdiri terus kayak manekin nyalamin tamu, keep smiling kalo diminta wefie bareng atau foto bersama tamu dengan posisi sama. Kalo aku lihat kembali album nikah kami, kayaknya posisi fotonya seragam semua, which is latar belakang fotonya sama, mantennya di tengah, trus tamu-tamunya bergantian di kiri kanan. Lucunya, gak 100 persen tamu yang datang kami kenal karena memang rata-rata teman orang tua. Yang ketawa abis baca ini pasti punya pengalaman sama 🤣

Finally we have a happy marriage and family life.

#5 LDR Setelah Menikah

bf6012ea8a39dc731a8cd6b8416043d5
5 Februari 2018

Jarak dari mulai kenal sampe nikah cuma hitungan bulan, hanimun ke Bali dan Kupang cuma dua minggu, abis itu langsung pisah lagi setelah jadi suami istri. Kasihaaan #backsoundnya pake lagu Pasto ‘Aku Pasti Kembali 😁

Keputusan kami tetap LDR maksimal setahun ada alasannya. Pertama, memang karena pernikahan kami yang terhitung cepat. Jujur, ini seperti shock therapy buatku. Pada dasarnya aku siap mendampingi mas di Kupang dan resign dari kantor. Aku udah siapin mental dari jauh-jauh hari, sembari hati tetap berdoa semoga Allah beri petunjuk terbaik. Pokoknya serahin deh semua sama Dia.

Mas sepertinya mendengar suara hatiku yang selama ini cuma aku berikan lewat kode-kode puisi tak berjudul (mulai deh lebay). Mas bilang, “Gak papa kita pisah dulu, tapi setahunan aja ya? Semoga sepanjang waktu itu ada rezeki mas geser kerja ke Bali misalnya, baru nanti kamu nyusul.” Dalam hati, aku sangat berterima kasih pada ‘Makhluk Tuhan Paling Seksi’ ini, kalo kata Mulan Jameela. Oke, baiklah, kita lihat setahun ke depan, sembari aku juga mempersiapkan diri pisah dari tempat kerja dan profesi yang teramat kucintai ini. Ellaaah.

Hari-hari pisah dari suami itu paling gak enaknya pas dengar suami sakit, pas dengar suami bilang dia belum sarapan (padahal hari udah nunjukin jam sembilan pagi), pas suami bilang kangen, pas mau ngelus pipi suami langsung tapi cuma bisa ngelus layar laptop setiap skype-an, pas suami bilang dia sedih bobok sendiri, atau pas suami nunjukin foto-foto kita berdua waktu di Bandung-Bali-Kupang. Mewek deh tiap malam.

Hubungan jarak jauh ini ujian terberat bagi kami. Ini bukan cuma soal jarak geografis yang membentang antara Kupang dan Jakarta saja, tapi juga soal antisipasi agar hati kami tak ikut-ikutan merentang jarak.

Meski komunikasi hanya berlangsung lewat dunia maya, tapi kami tetap bersyukur masih bisa mendengar cerita masing-masing. Kami pun sama-sama belajar menyelaraskan kehidupan pribadi dengan pekerjaan. Terima kasihku untuk mas yang tak pernah mengekang langkah istrinya yang masih ingin terus berkembang.

#6 Pindah ke Bali

163044c9d6efd063e76ea8afd4dcdade
6 Februari 2018

Allah Maha Baik. September 2014, menjelang LDR satu tahun berakhir, mas digeser dari Kupang ke Denpasar. Tibalah waktunya menghadap Pak Nasihin Masha, Pimpinan Redaksi REPUBLIKA saat itu. Sebelumnya aku sudah ‘nyicil’ woro-woro soal rencana ini ke Kang Maman di ROL dan Kang Elba di koran. REPUBLIKA itu asik, gak ada jarak antara atasan dan bawahan. Semua seperti keluarga.

Kang Maman, Kang Elba, Kang Heri, Mas Dewo, Pak Broto adalah sosok-sosok yang selalu menyemangati rencana-rencanaku ke depan. Mereka tak menjanjikanku apa-apa, tapi selalu support dan mendoakan semoga ada keputusan terbaik dari pemred.

Di depan ruangan Pak Ink, aku sempat panas dingin. Udah bawa tisu beberapa lembar di kantong celana, takutnya aku gak siap meninggalkan kantor dan sahabat-sahabatku di lantai tiga Gedung Buncit 37 itu 😭

Singkat cerita, Pak Ink merestui aku bertugas di Bali masih sebagai reporter REPUBLIKA. Jika mau bersabar, nantinya aku bisa menggantikan Pak Ahmad Baraas setelah purnatugas Agustus 2017 lalu. Ya Allah, senyumku sambil berkaca-kaca, kucium tangan beliau seperti meminta restu ayah sendiri. Terima kasih Allah atas semua kabar baik ini.

Perpisahan itu akhirnya tiba. The Sweet Hello, The Sad Goodbye, persis kayak lirik lagunya Roxette (ketahuan umurnya). Kutinggalkan Jakarta dan Bogor, dua kota yang menjadi rumahku selama 10 tahun terakhir. Saatnya mengabdi sebagai istri. Welcome to Bali.

Tahun pertama di tempat baru, aku dan mas tinggal di kontrakan sederhana di Dalung, masuk wilayah Kecamatan Kuta Utara. Hidup begitu indah bagai kembali menjadi pengantin baru. Bali selalu memikat hati kami. Setiap akhir pekan jalan-jalan sama mas, dan sejak itu kami mulai candu mengeksplorasi tempat-tempat wisata baru.

Setelah serumah sama mas, aku semakin menyadari kedewasaan itu akan datang dengan sendirinya ketika seseorang dibebani tanggung jawab. Peran sebagai istri membuatku harus bisa ngehandle semua kerjaan rumah tangga dan kantor. Aku juga semangat belajar masak, meski modalnya cuma googling doang. Terima kasih untuk mas yang selalu ‘berlapang dada’ menikmati enak dan gak enaknya masakan istrinya 🤣

#7 Yang Datang dan Pergi

dba029aec4e414944d6b12dc61abdf62.jpg
7 Februari 2018

Allah memberi anugerah terindah untuk kami dua bulan setelah bersama di Bali. Tapi, titipan-Nya itu hanya dipercayakan menjelang lima bulan usia kandunganku, setelah kami tahu ayah ibu mama papa bakal dapat cucu pertama laki-laki.

Selasa, 17 Maret 2015 jam tiga dini hari aku merasakan kontraksi dan keram perut luar biasa. Semua mendadak begitu saja. Kakak, demikian kupanggil dia, seperti berontak tak nyaman lagi di perutku. Apapun posisi tidurku tak berpengaruh sama sekali mengurangi rasa sakitnya. Semua itu justru terjadi ketika aku di rumah sendiri, sementara mas sedang meeting di Jakarta.

Aku menangis panik sambil menahan sakit ketika ada flek saat aku ke kamar mandi. Pagi buta itu juga aku bergegas menghubungi taksi untuk diantar ke rumah sakit.

Kuambil tas, memasukkan sejumlah barang yang mungkin saja kuperlukan. Kutelepon mas memberi tahu keadaanku. Mas meminta papa mama yang waktu itu masih bekerja di Banyuwangi untuk datang menemaniku di rumah sakit, sembari cari tiket pesawat pulang.

Dokter memintaku bedrest total, bahkan BAK, BAB, berganti pakaian pun dalam posisi tidur. Lewat tengah malam berikutnya, kakak seperti memaksa ingin keluar. Ketubanku pecah, dan tak lama anakku lahir normal, tapi tak bernyawa. Innalillaahi wa innailaihi rajiun. Rabu, 18 Maret 2015, Kakak Raffa berpulang pada-Nya.

Ketika seorang wanita keguguran, hal utama yang perlu dirawat bukanlah fisiknya, tapi hatinya. Mereka kerap merasa tiada lagi masa depan untuknya, terlebih wanita yang hamil pertama. Jangan memandang rendah luka mereka. Beri mereka waktu untuk berduka, sembari menghibur perlahan. Beri kebebasan istri dan suami mengatasi kesedihan dengan cara masing-masing.

Hari-hari kami masih tak lepas dari kesedihan tujuh bulan setelah kakak tiada. Allah kembali memercayakan Maetami hadir di keluarga kami, 11 Juni 2016, dua tahun setelah menikah.

Yakinlah, setiap orang beriman pasti diuji kadar keimanannya dengan berbagai cara. Terkadang Allah sembunyikan matahari, dan beri kita petir kilat. Kita menangis, bertanya, kemana matahari? Rupanya tak lama kemudian Allah memberi kita pelangi.

#8 Beloved Husband & Super Dad

adae65fd17e5f8aa87c34fe71367ddc5
8 Februari 2018

I married the very best man I knew. Melahirkan dan membesarkan anak pertama itu kuakui penuh drama, mulai dari drama menyusui, demam pascaimunisasi, batuk flu yang datang silih berganti, drama MPASI, bayi yang superaktif, dan ketika Maetami mulai posesif sama ibunya.

Untungnya mas tidak gengsian merawat anak 😉Dia mau nyuapin Mae makan, mandiin Mae, nyapu ngepel rumah, begadang rawat istri kalo lagi demam, pijitin istri kalo pegel, meski kesibukannya pun tak terhitung banyaknya.

Mas tipikal suami sekaligus papa ideal dalam keluarga. Dia memenuhi kewajibannya untuk istri dan anak dengan cara-cara maruf. Dia luangkan waktu untuk istri, dia ajak istri anaknya yang masih bayi beribadah bersama, serumit apapun kami berdebat dia selalu lihat sisi positif istrinya, juga sangat penyayang.

Pekerjaan kantor sudah pasti menyita lebih dari separuh waktu mas dalam 24 jam. Sampai di rumah pun tak jarang dia masih menghandle kerjaan. Meski begitu, seletih apapun mas, dia tetap semangat menemani Maetami bermain. Apalagi saat-saat Maetami dalam masa pertumbuhan dan lagi aktif-aktifnya.

Si kecil lebih senang bermain dengan papanya ketimbang ibunnya. Kenapa ya? 😅 Mungkin papanya lebih kreatif, sementara ibunnya membosankan, ngomel terus, tipikal emak-emak banget. Gak salah ada yang bilang cinta pertama anak gadis adalah ayahnya.

Pria manapun kadang sulit memahami perasaan wanita, bahkan anak perempuan sendiri. Anak perempuan lebih manja, mencari berbagai cara supaya ‘ditolong’ papanya. Pokoknya mau dicintai terus 😊

Ada kalanya emosi agak tinggi kalo Maetami mulai bikin kesel. Kadang police line emak bobol juga, tapi begitu lihat bayinya bobok pules, jadinya menyesal sendiri. Selalu mengingatkan diri bahwa orang tua adalah panutan anak. Jika pola pengasuhan sudah salah sejak awal, suatu hari ini menjadi bom waktu untuk kami.

Aku dan mas masih terus belajar memperbaiki diri supaya tidak menjadi orang tua yang buruk untuk putra-putri kami kelak. Kami sadar, kami bukan sebatas orang tua biologis untuk Maetami, melainkan juga orang tua spiritual dan TEMAN BERMAIN.

#9 We Bought a House

f9a93a3b2927295e5d58ca6d3e6f3ee5
9 Februari 2018

Waktu LDR, kadang mas ke Jakarta atau aku yang nyusulin dia ke Kupang atau Bali pas meeting. Pasangan baru kayak kami boro-boro mikir beli rumah, sekamar aja belum karena masih pisah 😭

Kami sama-sama masih ngekost. Jadi, kalo ketemuan, tidurnya berdua di single bed. Kasur kecil, tapi kalo udah jadi suami istri rasanya gak pernah sempit. Istri enak dipeluk suami, meski badan pegel-pegel pas bangun pagi karena tidur miring terus 😆

Ngomong-ngomong soal rumah, kita berdua sebenarnya bercita-cita punya rumah di Bogor. Impianku sejak lama saking cintanya sama kota ini. Mas pun mengiyakan karena relatif dekat dengan keluarga mama papa di Bekasi-Bogor. Ayah ibu cukup satu kali naik pesawat ke Jakarta.

Siapa sangka nasib membawa kami punya rumah di Bali. Harga satu rumah standar di Bali udah bisa beli dua rumah gedong di Bogor. Dahsyat emang.

Kami mencari cukup lama sampai menemukan rumah di Kompleks Padang Udayana, Jalan Gunung Agung, Denpasar. Alhamdulillah Juli 2017 kami resmi bobok di rumah sendiri setelah tiga tahun ngontrak.

Beli rumah itu sama seperti menikah, harus komitmen. Maksudnya komitmen giat bekerja dan gak boleh boros sebab kudu bayar cicilan utang. Aku dan mas mutusin gak mau lama-lama minjem di bank, cukup empat tahun, meski hari-hari kami bakal penuh drama #eaaa Semua simpanan berdua dikuras habis, mulai dari tabungan, saham, obligasi, emas, sampe mobil pun dijual. Gak lupa dana IMF (International Mother Foundation) 😆

Bismillah, rumah yang membuat kami jatuh cinta pada pandangan pertama ini pun akhirnya menjadi hunian kami. Lingkungannya sangat plural. Ada tiga rumah ibadah berdiri berdampingan di kompleks ini, mulai dari mushola, pura, dan vihara. Setiap harinya lantunan Puja Tri Sandya (Hindu) dan azan (Muslim) terdengar beriringan siang dan petang menjelang maghrib. Sungguh indah sekali.

Bukan rumah mewah yang membuat kita betah di dalamnya, tapi karena rumah ini dijaga dengan cinta dan kasih sayang keluarga. Bukan beton yang menguatkan pondasinya, tapi akidah, ibadah, dan qanaah. Rumah kontrakan atau rumah pribadi bagi kami sama saja selama kita bisa menghadirkan surga di dalamnya 😘

#10 Mba Asuh untuk Mae

d93986314d239896248d6cce8d9405d2
10 Februari 2018

Hal terberat setelah menikah bukanlah beban kerjaan rumah tangga yang kujalani sembari liputan, tapi memilih mba asuh terbaik untuk Mae. Doa tahajudnya sama kerasnya dengan doa ditunjukkan jodoh terbaik.

Baby sitter kasar sama anak majikan bukan cerita baru, bukan cuma sekali dua kali, tapi udah kayak cerita klasik yang terus berulang di waktu dan tempat berbeda. Ini membuatku parno duluan.

Habibah datang ke keluarga kami pertama kali. Usianya enam tahun lebih muda dariku. Habibah dikenalkan sahabat dari Bella, tetanggaku. Karena perdana make pengasuh, aku kepoin dia, mulai dari datang ke rumahnya, kenalan sama suaminya, minta fotokopi KTP, nomer HP dia dan suaminya. Pokoknya udah kayak petugas call center kalo ada nasabah mau ngeblokir ATM via telepon. Semua data dicocokin.

Bibib, panggilan kami untuknya, meski belum punya anak selama tiga tahun menikah, tapi profesional mengurus bayi. Dia sayang banget sama Mae. Sedihnya Bibib cuma bisa bersama kami sampai Mae lima bulan karena akhirnya hamil dan suaminya meminta berhenti bekerja.

Ida datang direkomendasikan Bibib. Mereka tetangaan dan sahabatan. Alhamdulillah, was-wasku gak seakut sebelumnya. Ida hampir sebaya denganku, juga pernah kerja di Arab Saudi lima tahun, dan udah ngerti ngurus bayi.

Suatu hari Ida minta cuti panjang. Adik bungsunya kecelakaan, patah kaki. Sebagai anak pertama, Ida diminta pulang ke Madura untuk membantu merawat adiknya. Fisik ibunya sudah tak kuat, ditambah lagi putri Ida yang masih SD juga tinggal bersama neneknya.

Awalnya Ida cuti dua minggu, tapi ujung-ujungnya 1,5 bulan. Selama itu pula aku membawa Mae yang masih tujuh bulan liputan kemana aja. Pengalamannya masya Allah banget. Harus dibahas di cerita berbeda.

Bude, pembantu Bella, mengenalkanku pada Yani. Bude bilang, Yani orangnya baik, bersih, cekatan, tapi sayangnya sudah punya anak. Aku meminta Yani datang ke rumah, bicara empat mata, paparin aturan yang kuberlakukan di rumah, dan akhirnya aku mengizinkan Yani tetap membawa putrinya (Nia, tiga tahun) saat mengasuh Mae. Alhamdulillah Mae dan Nia sahabatan sampai sekarang dengan segala riak dan keseruan mereka.

#11 Menjaga Nenek

1d4eed3629e91ad1d5f3667ce446dffa
11 Februari 2018

Perkenalkan, beliau Nenek Syamsiah (97 tahun). Nenek sangat berjasa merawat dan mengasuh mas (papa Mae) semasa kecil. Nenek kami sangat sepuh, tapi urusan shalat lima waktu, ngaji, dan ibadah sunatnya lebih sempurna dibanding siapapun.

Alhamdulillah Allah beri umur panjang, sehingga nenek masih bisa melihat cicitnya, Maetami sampai sekarang. Mae memanggilnya Iyang (panggilan sayang untuk nenek uyut). Papa dan mama mertuaku tengah sibuk mengurus kepindahan ke Jakarta setelah mama memutuskan pensiun dini sebagai guru di Banyuwangi. Mama sering bolak-balik Jakarta-Banyuwangi-Surabaya. Naik turun pesawat setiap bulan sangat rentan bagi nenek, sehingga kami mengajak nenek dari Banyuwangi tinggal sementara di Denpasar enam bulan lamanya, sejak Juni 2017 hingga Januari 2018.

Otomatis tugasku bertambah lagi di rumah. Selain mengurus rumah tangga, aku juga harus merawat mas, Mae, dan nenek. Setiap hari nenek harus makan bubur nasi, sayuran lunak, dan ikan lunak tanpa tulang. Beberapa minggu pertama aku cukup keteteran, tapi berikutnya menjadi terbiasa. Sejak ada nenek, aku bangun lebih pagi setiap harinya.

Kami baru saja pindah ke rumah Padang Udayana. Aku tentunya masih canggung dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Di sisi lain, sejak pindah ke Divisi RANE, mas sering banget tugas ke luar kota. Dalam sebulan, dia dua minggu di Denpasar dan dua minggu lainnya di Jakarta, Yogya, Bandung, atau Semarang.

Kehadiran nenek bersama kami sangat kusyukuri. Mae ada teman main selain Nia, nenek bisa senyum tiap hari, aku pun tak kesepian di rumah ketika mas ke luar kota. Tiba saatnya nenek kembali ke Jakarta Januari kemarin, rasanya sediiih banget. Mae pun sampai sekarang masih rutin memanggil nenek setiap kali buka pintu kamar tidur bawah.

Bagaimana pun nenek adalah seorang ibu. Jasanya tak akan terbalaskan dalam hidup kita. Ketika dia tua, sudah semestinya kita merawatnya dalam kondisi sehat, sakit, maupun lemah karena usia. Ini adalah tugas kita sebagai anak, juga sebagai menantu. Semoga kelak kami bisa merawat orang tua kami dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

#12 Menggendut Bersama

2cfd306e8fd69c7918c4fb899f5c30ea
12 Februari 2018

Jumat kemarin aku menemani mas beli sandal baru. Pandanganku tertuju pada tumpukan baju perempuan di toko itu. Aku mencoba ingat-ingat, kapan terakhir beli baju baru? Mungkin lebaran tahun lalu. Aku begitu bersemangat memilih beberapa lembar yang kusuka.

Saat di fitting room, hasilnya? Gak satupun baju nyaman di tubuhku. Kalo gak lengan atas kekecilan, keteknya kesempitan, atau pinggang kurang lebar. Padahal sudah pede bakal muat. Niat shopping hilang, keluar toko berkaca-kaca, plus dicup-cupin dipuk-pukin suami.

Gendut setelah menikah bukan mitos. Apalagi perempuan menikah plus melahirkan, mayoritas bakal gemuk. Ekspektasi sih kayak Olla Ramlan, langsung menyusut sebulan abis persalinan, ternyata realitanya gak begitu.

Sebelum menikah, beratku kisarannya 45-48 kg, mas 45-47 kg. Setelah menikah, timbangan makin ke kanan. Beratku menjadi 50-53 kg, mas 52-55 kg. Saat hamil, berat badanku naik jadi 60 kg. Sekarang timbanganku gak move on dari 55 kg, mas 63 kg.

Sebelum menikah, aku masih sering sepedaan kemana-mana, ke kantor jalan kaki, kerja naik angkutan umum, berat badan terkendali. Setelah menikah, prioritas mendadak berubah drastis.

Jatuh cinta dan bahagia itu bikin gemuk. Tiga tahun pertama pernikahan adalah zona nyaman kita. Gak ada lagi istilah gengsian sama suami, gak ada lagi kewajiban dandan tiap hari. Wes nikah di depan penghulu, wes punya anak, masak berat badan istri naik 5-7 kg aja langsung ditinggalin? Gak lah, hubungan kita udah semakin stabil.

Orang bilang, gemuk setelah menikah berarti menemukan jodoh tepat. Istri makin chubby, sementara suami perutnya makin mirip model iklan susu Prenagen. Gimana gak gendut? Bangun pagi udah disiapin sarapan. Siang hari diingetin makan. Suami pulang udah ada makan malam. Padahal sebelum menikah sarapannya biasa jam 10 pagi atau diskip langsung makan siang.

Walau kita menggendut bersama, jangan sampai berlebihan. Sebenarnya kita bisa saling mengingatkan buat fokus ke asupan makanan sehat dan olah raga bareng. Aku dan mas udah mulai membatasi nasi di piring. Harapannya sih jangan sampe timbangan kita rebound lagi🤣

#13 Kapan Nambah Momongan?

556961b26bd024319a5600daf3566edd
13 Februari 2018

Pertanyaan ‘kapan’ untuk perempuan itu gak ada habisnya ya? Mulai dari kapan lulus, kapan kerja, kapan punya pacar, kapan nikah, kapan punya anak, kapan nambah momongan, kapan beli rumah, kapan beli mobil. Kalo kita jawab, “Doain aja ya secepatnya,” eeeeeh, ada lagi pertanyaan lanjutan. Udah kayak soal essay ebtanas jaman old 🤣

Beberapa teman mulai kepo, kapan kasih Mae adek? Ibu dan mama mertua juga pernah kasih kode, jarak dua tahun itu pas buat punya anak lagi. Gaes, rencana kami buat nambah momongan insya Allah ada. Doakan saja kami dipercaya Allah kembali pada waktu yang tepat. Amin.

Dulu pas awal-awal nikah, mas bilang pengen punya anak lima, biar kayak Pancasila. Setelah punya Mae sampai 20 bulan usianya sekarang, ngerasain langsung perjuangan kita gedein anak, target diturunkan jadi tiga. Aku dan mas tidak pasang KB suntik, pil, atau spiral. Cukup pake ‘karet’ dan siklus alami aja😆

Mas mah orangnya santai. Katanya, fokus dulu gedein Mae. Penuhi haknya disusui dua tahun. Malahan mas lebih sering nanya, “Kapan kamu belajar nyetir mobil? Bagusnya mama bisa nyetir, biar ntar lebih nyaman bawa anak ke sana ke mari.” Kali aja mau dibeliin mobil kan? Tapi, kita lunasin dulu utang rumah kita ya mas? 😄

By the way bus way, selain fisik dan materi, hamil lagi itu butuh kesiapan mental. Nah, ini nih yang aku dan mas jujur masih belum siap. Trauma abis melahirkan almarhum kakak secara normal dan Mae secara sesar mah enggak juga. Cuma, aku masih terus nyiapin diri, dua kali lebih sabar jika Mae punya adek nanti.

Kami ini emosinya masih labil. Kadang bisa sabar banget sama anak, kadang galak. Kami terus belajar supaya memberi pengaruh positif untuk Maetami dan adik-adiknya nanti.

Panggilan ‘papa’ atau ‘mama’ dari anak ketika si buruh pulang dari pekerjaannya adalah obat duka dari dampratan majikan di kantor. Panggilan ‘papa’ atau ‘mama’ dari anak yang berdiri di depan pintu itulah yang menyebabkan telinga tebal walaupun gaji kecil. Itu kata Buya Hamka.

Duh, Buya, bener banget 😀 Maetami adalah pengobat lelah kami setelah seharian bekerja. Malaikat kecil ini seperti air yang selalu menyegarkan.

#14 Selamat Ulang Tahun Pernikahan, Suamiku

24457ac25bf5d9a9b596a64022286b95
14 Februari 2018

Sebelum baca bagian terakhir dari #14haribercerita ini, yuk setel dulu lagu ‘Keluarga Cemara’ ya… karena harta yang paling berharga adalah keluarga 😙

Sampai sekarang aku dan mas terus berproses, terus mengenal satu sama lain. Kami sadar, masih banyak sifat, karakter, cara berpikir kami yang berbeda. Benar kata ayahku, perkenalan suami istri itu bisa dibilang PR seumur hidup.

Di hari ke-14 ini, izinkan aku menulis sekelumit tentang kamu mas #eaaa Mas itu suami penyayang, teman hidup terbaik, sahabat terbaik, papa terbaik untuk Mae. Aku sangat bersyukur dipertemukan dengan mas.

Menikah itu tak kalah pentingnya nyiapin emosi, mental, spiritual. Kehidupan setelah menikah jelas berbeda dengan pacaran. Bahkan temanku yang udah pacaran sejak remaja sampai menikah dengan orang yang sama sekalipun mengatakan, masih banyak hal-hal baru diketahui tentang pasangannya yang ternyata tidak terdeteksi waktu pacaran. See?

Menikah itu harus saling legawa, harus bisa meredam ego apalagi kalo sedang perang dingin ala suami istri. Menikah itu menunda keinginan, mengedepankan kebutuhan, kadang menunda kepentingan tertentu, apalagi jika sudah punya momongan.

Mas itu unik. Selera humornya membuat kami bisa senang-senang bersama. Aku pun bisa menjadi diriku sendiri. Mas itu cerdas, suka memerhatikan hal-hal kecil yang kadang luput dari perhatianku. Allah memberinya kemampuan untuk tekun belajar, suka tantangan baru, memahami, dan akhirnya mengajar, kemudian mempraktikkan.

Keluwesannya dalam mengasuh anak juga sukses memesonaku. Tidak ada pemandangan yang lebih indah selain melihat bagaimana dia bermain dengan cerianya bersama Mae. Meski kadang emosian (Yups, sometime kami ini pasangan yang emosian) kesetiaannya membuatku sangat aman dan nyaman dalam cintanya.

Happy Anniversary, mas! Another year to create precious moments together. Another year to strengthen a marriage that defines forever. Another year to discover new things to enjoy about each other. With you, I became a better person. Loved you then, love you still. Always have, always will.

Advertisements

2 thoughts on “#14HariBercerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s