Bali Bird Park, Ketika Burung dan Manusia Bertemu

P1010547.JPG

Februari lalu Bali menjadi tuan rumah Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia (KPPBI) III. Konferensi ini bertujuan sebagai ajang tukar menukar informasi terkini tentang perburungan di Indonesia, meningkatkan jejaring di antara peneliti dan pemerhati burung dari berbagai kalangan, dan meningkatkan peran penelitian serta pengembangan ilmu pengetahuan tentang burung di Indonesia. 

Sejumlah dosen dan sahabat dekatku kebetulan menjadi penyaji materi di acara ini. Para ahli dan praktisi burung di seluruh Indonesia, dan beberapa dari luar negeri, seperti Australia, Amerika, Belanda, dan Jerman tak ketinggalan ikut serta. Mereka berdiskusi dan memperluas jejaring guna menyelamatkan keberadaan burung di Indonesia.

Konferensi tiga hari itu bukan hanya ajang bertukar ilmu pengetahuan, tapi juga silaturahmi kami. Hari terakhir kami semua berkesempatan jalan-jalan ke Bali Bird Park. Aku, mas, dan Maetami juga sempat menikmati taman burung yang sangat indah ini.

P1010523

Bali Bird Park adalah rumah bagi ribuan burung langka di dunia. Taman burung terbesar di Pulau Dewata ini dibuka sejak Oktober 1995 untuk fungsi konservasi, edukasi, dan ekowisata.

Tak kurang dari seribu ekor burung dari 250 spesies di berbagai benua ada di sini, mulai dari bangsa cendrawasih, kakatua, nuri, pelikan, hingga bangsa predator, seperti elang dan burung hantu.

P1010597.JPG

P1010596.JPG
P1010592.JPG

Bali Bird Park ditata berdasarkan zonasi benua. Habitat burung dibuat menyerupai aslinya supaya hewan tetap sehat dan tidak stres. Tiket masuk untuk dewasa dibanderol Rp 150 ribu per orang, sedangkan tarif anak usia 2-12 tahun dipatok separuhnya. Bayi di bawah dua tahun tidak dikenakan tiket masuk alias gratis.

Anda tak sekadar menyaksikan ribuan ekor burung di taman yang buka setiap hari mulai pukul 09.00-17.30 WITA ini. Banyak aktivitas wisata ditawarkan, seperti menonton film tentang burung dalam versi empat dimensi yang diputar setiap jamnya, atraksi satwa, memberi makan burung, berfoto bersama burung, hingga belajar tentang reproduksi hewan bersayap ini.

P1010579.JPG

P1010573.JPG

P1010554.JPG

Anda tak perlu takut kepanasan di tengah cuaca Bali yang menyengat. Bali Bird Park dinaungi beraneka jenis pohon rindang, dilengkapi dengan air mancur di sana sini, membuat lingkungan sekitarnya tetap sejuk dan nyaman.

Bali Bird Park ditanami lebih dari dua ribu tanaman tropis. Ini menjadi magnet tersendiri bagi spesies selain burung, khususnya kupu-kupu.

Pengunjung membutuhkan waktu setidaknya dua hingga tiga jam untuk bisa menikmati sebagian besar aktivitas wisata di Bali Bird Park. Lelah tak jadi soal, sebab sebuah restoran siap memanjakan perut yang lapar. Toko suvenir pun disediakan, sehingga pengunjung bisa membawa pulang oleh-oleh yang disuka.

P1010585.JPG

Taman burung yang berlokasi di Jalan Serma Cok Ngurah Gambir, Batubulan, Gianyar ini ternyata stroller friendly. Ibu-ibu yang membawa kereta bayi atau lansia yang menggunakan kursi roda tetap bisa berkeliling taman dengan nyaman. Ada jalur khusus disediakan untuk mereka.

P1010543

P1010538

P1010528

Atraksi satwa adalah momen yang selalu ditunggu pengunjung. Imajinasi Anda diajak melayang bersama kepak sayap burung-burung pintar yang mengikuti perintah tuannya. Sejumlah pemandu akan menyajikan Anda pertunjukan satwa burung yang tak akan terlupa.

Basic Instinct mengajarkan bagaimana elang, celepuk, dan burung hantu bisa terbang, melayang, menukik ketika mangsa mereka ada di depan mata. Pasangan burung enggang dan rangkong tak ingin kalah lincah, meski tubuh mereka jauh lebih besar dibanding burung-burung lainnya. Mereka menunjukkan insting alaminya saat mencari biji-bijian yang disembunyikan tuannya.

P1010609.JPG

P1010604.JPG

P1010603.JPG

Burung warna-warni siap bertengger di lengan atau bahu Anda. Ada spot untuk berfoto bersama satwa. Pasangan burung kakatua nan kharismatik, Eclectus Parrot di mana jantannya bewarna hijau zamrud, sementara betinanya merah siap tersenyum bersama Anda. Ada juga burung ikonik lainnya, seperti Anna Maria, si kakatua kepala hitam, atau Wreathed Hornbill, burung pelatuk cantik dengan paruh kuat panjang.

P1010526

Anak-anak bisa dilibatkan memberi makan burung pelikan. Mereka bisa melihat bagaimana kantong di paruh bawah burung air ini bisa membesar sampai tenggorokan ketika mereka memakan ikan.

P1010589.JPG

P1010557

Bali Bird Park berkontribusi dalam perlindungan dan pelestarian satwa langka di Indonesia. Sebagian dari burung yang dikembangbiakkan di sini akan dikembalikan ke alam, seperti taman nasional.

Perdagangan ilegal menjadi salah satu ancaman serius pelestarian burung di Indonesia. Permintaan pasar untuk jenis-jenis burung tertentu, khususnya burung pengicau dan burung kharismatik sangat tinggi, sehingga mempercepat laju kepunahannya di alam. Penelitian Arif Rudiyanto dari Yayasan Kanopi Indonesia dalam penelitiannya menyatakan hampir semua jenis burung, khususnya burung pengicau ordo Paasseriformes ditangkap dan diperdagangkan sebagai hewan peliharaan.

“Ini menyebabkan kenaikan daftar spesies burung terancam punah,” katanya.

Burung dan manusia pada dasarnya sama, memiliki alam semesta sebagai sangkarnya. Burung layaknya manusia berhak bebas hidup di alam, sehingga kelestarian mereka merupakan bagian dari tanggung jawab kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s