‘Thor: Ragnarok’ Rasa ‘Moana’

marvel1.jpg
Foto: Marvel

Aku dan mas sangat excited jauh hari sebelum Thor: Ragnarok dirilis. Tiket pun dibeli 10 hari sebelum hari-H. Maklum, yang satu sibuk ke luar kota, yang satu emak-emak beranak yang kadang masih harus nulis berita pas weekend sambil momong bayi. Jadi, kami sepakat kosongkan jadwal buat nonton bareng Sabtu, 28 Oktober 2017.

Kesan pertama begitu keluar Teater-1 Level21 Denpasar adalah……. “Nonton lagi yuk?” 😀 Pasti banyak yang sependapat. Iya kaaaan?

Thor tipikal anggota Avengers paling konvensional. Mungkin ini juga yang bikin masih banyak orang belum nonton superhero yang satu ini. Coba lihat Captain America, udah ganteng, tentara hebat pula. Iron Man apalagi, udah pemerannya Robert Downey Jr, kostum kece, Tony Starknya pinter banget, jago bikin senjata. Hulk? Siapa yang gak kenal Hulk? Anak-anak 90-an sepertiku mungkin lebih familiar dengan Hulk dibanding Captain America. Soalnya mirip Kakek Buto Ijo di dongeng Bawang Merah Bawang Putih. Kekeke.

Thor siapa sih? Superhero lain kostumnya unik-unik dan keren-keren, nah Si Thor ini kok pakaiannya ndeso banget? Kostumnya ketinggalan zaman, senjatanya gak keren, cuma palu, bukan mata laser kayak Iron Man, jaring laba-laba kayak Spider Man, atau jago lari kayak Flash. Yang bikin tertarik cuma tampang Chris Hemsworth-nya ganteng.

Banyak alasan orang-orang gak melirik Thor. Tapi, tunggu dulu gaes. Buat yang sebelumnya belum pernah nonton Thor, atau cuma nonton The Avengers doang. Dijamin, abis nonton Ragnarok, pasti banyak yang bakal donlot film-film Thor sebelumnya.

Thor: Ragnarok rasanya emang beda banget dengan seri-seri dulu yang sangat gelap. Usut punya usut, Marvel ternyata lagi-lagi mengganti sutradaranya.

Film pertama Thor digarap Kenneth Branagh, sedangkan sekuelnya, Thor: The Dark World digarap Alan Taylor. Film pertamanya menurutku sukses, namun film keduanya sedikit tenggelam karena tak cukup sukses mengangkat Thor menjadi karakter favorit. Orang-orang malah lebih terpesona dengan sosok Loki, adik Thor yang antagonis. Trikuel Thor: Ragnarok ternyata digarap Taika Watiti, sutradara asal Selandia Baru, dan ternyata doi juga penulis skenario cerita film animasi Moana. Udah nonton Moana belum? Coba nonton gih. Pasti tahu selera humor Thor terbaru ini datangnya dari mana. Hehehe.

Thor: Ragnarok inti ceritanya adalah perjuangan Thor untuk menyelamatkan rakyat Asgard dari kiamat besar (disebut Ragnarok) yang sudah dinubuatkan oleh leluhurnya. Sebelum meninggal, Raja Odin, sang ayah berpesan tentang kemunculan anak sulung yang tak lain kakak Thor dan Loki bernama Hela (Dewi Kematian, diperankan Cate Blanchett) yang mengambil tahta berikutnya. Tanpa berniat spoiler, silakan datang ke bioskop terdekat.

Berikut adalah sedikit review tentang film ini. Namanya juga pandangan subyektif ya, jadi kalo ada yang kurang sependapat sah sah aja.

Banyak karakter dihilangkan

Thor: Ragnarok bagiku bisa ditonton terpisah dari dua film sebelumnya. Mengapa? Cerita terbaru ini lebih nyambung dengan cerita seri The Avengers ketimbang prekuel dan sekuel Thor.

Penonton gak lagi melihat sosok Jane Foster, pacar Thor yang sebelumnya diperankan Natalie Portman. Kita juga gak lagi ketemu Erik Selvig, profesor gila yang diperankan Stellan Skarsgard. Gak ada lagi Darcy Lewis (teman Jane, diperankan Kat Dennings), atau Lady Sif (sahabat perempuan Thor di Asgard, diperankan Jaimie Alexander).

Patah tumbuh, hilang berganti. Ujug-ujug Taika Watiti mendatangkan sosok Hela, kakak Thor dan Loki yang keberadaannya selama ini ternyata disembunyikan oleh sang ayah, Raja Odin.

Agak kurang ajar juga ya ini Si Taika Watiti? Tanpa babibu dia langsung membuat cerita Raja Odin meninggal, dan Cate Blanchett pun muncul mengumumkan dirinya adalah Hela, pewaris tahta Asgard berikutnya.

Pak sutradara juga Raja Tega. Banyak karaker yang dihilangkan atau dibuat meninggal dunia. Selain Lady Sif yang gak tahu nasibnya gimana, sahabat-sahabat Thor yang tergabung dalam The Warriors Three dibikin almarhum oleh Hela dibunuh pake pisau obsidian dengan kemampuan telekinetiknya. Mereka adalah Volstagg, Fandral, dan terakhir Hogun yang matinya sangat mengenaskan saat memimpin ribuan prajurit Asgard menggempur Hela. Palu sakti Thor, Mjolnir bahkan hancur di film ini. Thor mulai sekarang gak lagi nenteng-nenteng palunya kemana-mana. Why oh why Taika? #nangisbombay.

Taika juga melahirkan karakter baru seperti Skurge the Executioner, pengganti Heimdall yang membelot menjadi algojo Hela (diperankan Karl Urban). Skurge ini menurutku karakternya cukup kuat, pasti menarik untuk digali, tapi eh tapi udah ‘dimatiin’ aja di akhir cerita.

Tokoh antagonisnya biasa aja

Thor: Ragnarok gak menyajikan penjahat seseram yang kalian bayangkan. Bahkan, Hela pun gak serius-serius amat, persis kayak Loki di dua film Thor sebelumnya. Yang bikin Hela itu antagonis paling cuma rambutnya yang berubah jadi tanduk rusa bercabang di sana sini, muka pucat, tatapan tajam, tawa jahat, atau kata-katanya yang sombong sekali.

imdb.jpg
Hela (Foto: IMDB)
gm.png
Grandmaster (Foto: Polygon)

Pada saat Thor dan Loki terlempar ke Planet Sakaar, di sana mereka bertemu dengan tokoh antagonis lainnya, Grandmaster (diperankan Jeff Goldblum). Aduh aduh, ini lagi, tampangnya Grandmaster gak nyeremin. Kayak pesulap di sirkus. Yang bikin Grandmaster nyeremin apa sih? Tongkatnya doang yang bisa membunuh orang lain dengan cara dilelehkan.

Soundtrack dan musik latarnya keren

Lagu Immigrant Song punyanya Led Zeppelin sukses bikin film ini hidup. Kalo kata suami, lagu pengiringnya sama kayak pas nonton Wonder Woman lagi perang.

Aku juga merasakan sensasi lagi nonton Guardian of the Galaxy sepanjang Thor terjebak di Planet Sakaar. Sosok Grandmaster mengingatkan kita pada sosok Taneleer Tivan alias The Collector yang diperankan Benicio de Toro. Dia adalah pengoleksi barang-barang langka dan unik dari seluruh galaksi. Hehehe. Musik latar film Thor semuanya digarap Mark Mothersbaugh di bawah label Hollywood Records.

Judulnya gak seseram filmnya

Judulnya kan Ragnarok, tapi filmnya gak seseram kiamat yang dibayangkan dalam mitologi Nordik, yaitu kehancuran Asgard dan akhir dari kisah para dewa di kerajaan tersebut. Untungnya musik Led Zeppelin cukup bikin panas pertempuran antara Hela melawan Thor dan Valkyrie (diperankan Tessa Thompso, yang juga gak kalah kocaknya).

Meski demikian, overall, poin yang ini sama sekali tidak menjadikan film ini minus di mataku. Taika berhasil menciptakan rasa unik dari Thor. Dia bisa mentransisikan Thor menjadi karakter Marvel yang sedikit berbeda di dalam cerita versi filmnya tanpa membuat penonton merasa terganggu (kecuali emang penggemar DC yang dogmatis banget). Menurutku pribadi, film ini sukses besar dengan ansambel yang fantastis.

Love and hate ala Thor-Loki

Loki, adik Thor dalam cerita manapun selalu terkenal dengan kelicikannya. Namanya juga God of Mischief, selalu jadi sumber masalah dan malapetaka. Dia memalsukan kematiannya di Asgarf, bahkan mengasingkan sang ayah ke sebuah panti jompo di Bumi. Namun, di film ketiga ini Loki setidaknya bisa menjadi baik dan menjadi penyelamat Asgard.

thorloki.png
Loki dan Thor (Foto: Marvel)

Loki memiliki siklus perilaku destruktif alias latahan, suka mengulang mengulang dan mengulang kecurangan serupa, hingga Thor menjulukinya Dewa Penipu. Di trikuel Thor, hubungan kakak adik ini bisa dipandang positif. Keduanya yang selama ini seperti anjing dan kucing, langit dan bumi, akhirnya bisa menyamakan visi atas nama bangsa mereka, Asgard.

Selain hubungan kakak adik, Thor: Ragnarok juga menceritakan hubungan persahabatan antara Thor dengan Bruce Banner a.k.a Hulk, anggota Anvengers lain yang masuk ke cerita ini. Thor yang selama ini digambarkan sosok kuat, sangat percaya diri, hebat, penuh pesona, bahkan pernah mengklaim dirinya Avengers terkuat harus kalah gengsi karena hal sepele banget.

Thor yang berencana kabur dari Planet Sakaar menemukan kembali pesawat Avenger Quinjet yang ditumpangi Hulk saat terlempar ke planet yang sama. Thor mengansumsikan sistem pesawat milik The Avengers itu akan beroperasi saat dia menyebut namanya, Thor sebagai Avenger terkuat. Ternyata, password Avenger terkuat yang dijadikan kata sandi pesawat luar angkasa tersebut adalah Hulk.

Pesona Thor juga hilang ketika dia di banyak adegan sering tersengat listrik, dilempar, diremehkan musuh, dibanting Hulk, hingga menangis sambil memelas saat rambut panjang kebanggaannya dipotong pendek oleh Stan Lee. Adegan Loki menertawakan kakaknya ketika dipermainkan Hulk di arena gladiator sukses bikin seisi bioskop tertawa.

Pesan moral

Thor: Ragnarok memberi banyak pesan penting dalam ceritanya. Thor selalu berpegang teguh pada hal yang benar. Dia menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

Hela mengatakan Thor secara fisik mirip dengan Odin, namun secara karakter Loki sesungguhnya lebih mirip sang ayah. Hela mengungkap dosa-dosa Raja Odin di masa lalu. Raja Asgard tersebut ternyata pernah melakukan genosida, yaitu melenyapkan sejumlah peradaban, dan menguasai sejumlah planet di galaksi. Kerajaan Asgard dibangun dari kekejaman seorang Odin di masa lalu.

Film ini juga menceritakan tentang apa itu arti kematian dan kelahiran kembali. Manusia selalu mempunyai pengharapan. Mirip dengan cerita kapal Nabi Nuh, demikian juga nasib rakyat Asgard yang meski planetnya hancur, namun mereka tetap bisa membangun peradaban baru.

Kehidupan di Planet Sakaar juga memberi pelajaran penting bahwa dalam kondisi terburuk sekali pun, manusia harus bisa bertahan hidup. Planet Sakaar adalah planet buangan, planet sampah, dan planet yang sama sekali tak dilirik. Semua hal tak diinginkan dibuang ke planet ini. Meski demikian, Grandmaster berhasil membangun peradaban maju di planet warna warni ini. Tetap ada hiburan meski mereka hidup di planet neraka.

Film Marvel terkocak abad ini

Film-film bioskop selama lima tahun terakhir kayaknya bisa dibilang isinya Marvel semua. Marvel lagi… Marvel lagi. Filmnya rata-rata juga serius, selain Deadpool yang cukup menggelitik perut dengan humor cerita plus omesnya. Spiderman? Versi terbaru, Homecoming baru kemarin lahirannya.

Jadi, baru Thor: Ragnarok ini yang menurutku selera komedinya paling solid. Hihihi. Minta maaf juga buat penggemar berat komik-komik DC, kalo superhero kalian kehilangan kharismanya karena dibikin jadi pelawak. Tapi balik lagi, humor itu soal selera sih ya. Kalo orang-orang satu bioskop bisa ketawa ngakak nonton Thor: Ragnarok sampe lu bisa ngerasain itu teater gedebag gedebug karena kaki-kaki yang nonton ngehentak lantai pas lihat Hulk ngebanting Thor kanan kiri. Ya berarti, ini filmnya sukses dooong 😀

Film ini sukses bikin ketawa, membuat lupa sejenak dengan rumitnya cerita belasan superhero Marvel yang setiap keluar film baru bikin kita harus flashback ke film-film lama. Nyambungin cerita Spider Man: Homecoming misalnya, harus comotin film Captain America, loncat ke Iron Man, loncat lagi ke The Avengers. Duh Gusti, udah kayak mau ujian semester. Hehehe.

thor-ragnarok-hulk-valkyrie-loki-1024x568.jpg
Foto: Cheat Sheet

Film-film Marvel selama ini penuh dengan metafora dan citra fantastis sederet superheronya. Thor: Ragnarok adalah kebalikannya. Film ini mampu membangun narasi superhero Marvel yang lebih menarik daripada prajurit-prajurit The Avengers di Civil War atau Winter’s Soldier. Thor: Ragnarok tampaknya menetapkan standar baru yang harus diikuti oleh seluruh superhero di Marvel Cinematic Universe. Kalo gak ngikut, ya pasrah aja ratingnya segitu-segitu aja. Hehehe.

Film ini juga cocok ditonton semua umur. Gak ada adegan dewasa, komedi petualangan yang fantastis, dan yang penting sukses bikin ketawa di akhir pekan. Nilainya 8,5.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s