8. Vietopia

Rabu ini sungguh berbeda. Jalanan sekitar Jatipadang hingga Duren Tiga seperti surga, tak sesak seperti biasanya oleh kendaraan mobil dan motor yang berseliweran saling menyalip dan padat merayap. Tak ada yang berebut jalan dan beradu kecepatan siang itu.

Selepas konferensi pers di Kementerian Pertanian, Fairy ada jadwal liputan di Cikini. Dari Jalan Harsono RM, Fairy memutuskan naik Kopaja P20, bukan Transjakarta.

Jika naik kopaja, Fairy bisa turun persis di lokasi liputan. Jika naik Transjakarta, Fairy harus melewati beberapa stasiun transit yang antreannya panjang.

Kopaja semakin melambat begitu melewati Mampang Prapatan. Banyak penumpang naik ke bus jurusan Lebak Bulus – Kota itu. Mereka umumnya naik lewat pintu depan.

Abang kondektur memintai ongkos Rp 2.000 kepada penumpang. Sesekali dia menggerincingkan uang-uang logam di tangannya sebagai tanda minta ongkos. Begitu selesai, kondektur berdiri di pintu masuk belakang sambil berteriak mengimbau penumpang.

“Kotaaa….kota….Menteng, Cikini,” katanya.

Kondisi bus yang ditumpangi Fairy jauh dari standar nyaman. Lantai bus kotor berkarat, bangkunya yang bewarna hijau terasa keras dan panas. Supir bus sering mengoper penumpang ke bus lain apabila jumlah penumpang sedikit. Fairy beruntung tak mengalaminya saat itu.

Bau solar tercium dari dalam bus. Seorang bapak di belakang Fairy ternyata sedang merokok. Ia tak menghormati kenyamanan penumpang lainnya.

Fairy sampai di Cikini setelah 30 menit berjuang dengan polusi di dalam bus. Vietopia, nama restoran yang menjadi tempat Fairy liputan siang itu.

Restoran Vietnam yang muncul di bilangan Cikini ini kesannya terselip di antara jejeran rumah toko bernuansa kolonial Belanda. Alamatnya di Jalan Cikini Raya Nomor 33.

Seorang pelayan membukakan pintu untuk Fairy. Fairy kemudian diantar menuju ruang diskusi lembaga lingkungan hidup yang menamakan dirinya Aliansi Masyarakat Hijau Indonesia (AMHI).

Seorang wanita bernama Anis yang ternyata public relation AMHI memberikan Fairy satu paket agenda diskusi dan bahan presentasi narasumber.

Diskusi rupanya baru dimulai. Namun, alangkah terkejutnya Fairy. Ia menemukan lagi sosok itu di deretan ketiga dari kiri.

Orang itu duduk di bangku narasumber. Dia mengenakan batik lengan pendek berwarna coklat bermotif sisir-sisir kecil dan jumlahnya banyak. Bagian atas baju batik itu terdapat gambar beberapa helai daun.

Pria itu terlihat elegan dengan tatanan rambut hitam dan cambang yang dicukur tipis. Tampilannya beda jauh dengan yang dijumpainya di Citarik dua minggu lalu.

Fairy masih belum lupa segala hal tentang laki-laki itu. Sosok yang beberapa kali sempat mendatangkan masalah untuknya di Sukabumi.

Seperti merasakan hal sama, alis mata Genta terangkat kaget menyaksikan kedatangan Fairy. Beberapa detik dua pasang bola mata itu sempat berpandangan.

Genta tersenyum tipis, Fairy membalas. Namun, dia tak ingin peserta lain menyadari kegugupannya. Fairy langsung duduk di sofa kanan, dekat Bernadeth dan Mba Alina yang hadir lebih dulu.

Fairy membuka map bahan diskusi, mengeluarkan lembaran agenda yang berisi materi. Salah satu lembaran tertulis nama penyaji materi, Genta Buana Matsumura.

Fairy yakin tiga ejaan nama itu adalah Genta yang dia maksud. Dia ternyata direktur AMHI, lembaga nasional yang bergerak di bidang lingkungan hidup.

Lembaga ini sangat terkenal di kalangan aktivis lingkungan, pemerintah, hingga DPR. MC terdengar mempersilakan Genta menyampaikan materi diskusi. Suara tepuk tangan yang hadir mengisi ruangan.

Genta menarik pengeras suara ke arahnya. Ia mengucap salam dan memperkenalkan diri.

Sementara itu, Fairy mencoba mencairkan suasana dengan mengeluarkan netbook dari dalam tasnya. Ia mencoba mengetik ulang paparan presentasi yang disampaikan Genta.

Materi kali itu membahas tentang kontroversial praktik pangan transgenik hasil rekayasa genetika, khususnya beras. Pemerintah berencana mengeluarkan aturan perizinan untuk operasi pangan transgenik.

“Sejarah mencatat praktik pangan transgenik di dunia hanya menguntungkan korporasi asing. Apalagi, pemerintah memutuskan akan bermitra dengan perusahaan pangan multinasional yang beberapa di antaranya pernah mencetak pengalaman kelam dengan petani-petani di negara kita,” papar Genta pada 10 menit pertama diskusi.

Genta menyapu seluruh ruangan, memandangi satu persatu peserta diskusi. Ia mencoba berkomunikasi agar peserta memahami materi yang disampaikan.

“Beras transgenik ini merupakan produk artifisial. Risiko bahayanya tak dirasakan dalam jangka pendek atau menengah, melainkan jangka panjang. Lagi pula, Indonesia ini negara agraris sehingga belum waktunya memproduksi secara masal.”

“Pemerintah semestinya memprioritaskan peningkatan kesejahteraan petani. Pelepasan varietas padi transgenik dan produksinya untuk komersial menurut kami belum waktunya dilakukan,” jelas Genta.

Diskusi siang itu berlangsung selama dua jam dan berakhir tepat pukul 15.00 WIB. Seluruh peserta diskusi menuju ruangan restoran menokmati sajian makan.

Restoran sekaligus kafe bernuansa serba putih itu menawarkan suasana yang nyaman. Fairy duduk di bangku deret keempat dekat pintu masuk, bersama Bernadeth dan Mba Alina.

Dia memilih Hu Teu Tom Chua, menu terlezat di Vietopia, berupa mi kuah yang dimasak dengan seafood. Rasanya segar. Bernadeth memesan menu yang sama, sedangkan Mba Alina memilih Tom Rim, udang goreng Vietnam dengan saus khas.

“Fay, gue mau ketikan cepat di diskusi tadi dong,” kata Bernadeth yang masih mengunyah makanannya.

“Aku juga Fay,” timpal Mba Alina.

“Okay,” jawab Fairy sambil langsung membuka emailnya dan mencari alamat email kedua sahabatnya itu.

Anis kemudian terlihat menghampiri ketiganya.

“Mba Fairy, Mba Bernadeth, dan Mba Alina, boleh saya minta kartu namanya, mba?”

Fairy tersenyum kemudian meraih selembar kartu nama dari tasnya.

“Ini mba, silakan,” ujar Fairy.

Anis tersenyum dan berterima kasih.

“Saya segera emailkan bahan materi soft copy presentasi tadi ke teman-teman semua. Oke, silakan dilanjut santap sorenya,” ujar Anis kemudian berlalu.

Fairy melihat Anis bergabung ke meja Genta dan rekan-rekannya. Genta terlihat menyunggingkan senyum ke arah mereka.

Tak lama berselang, satu per satu wartawan meninggalkan Vietopia. Fairy memutuskan untuk mengirimkan berita dari Vietopia. Ini karena waktunya sudah deadline, maksimal pukul 17.00 WIB.

Bernadeth terlihat beberapa kali menerima panggilan telepon dari redaktur yang mengarahkan penulisan berita. Mba Alina terdengar menghubungi pihak pemerintah, yaitu Kepala Badan Ketahanan Pangan untuk tambahan narasumber.

Penulisan berita dituntut seimbang atau cover both side. Seorang jurnalis harus mencantumkan pandangan beberapa pihak dalam sebuah pemberitaan.

Oh no! Baterai netbook Fairy sudah krisis. Ia melihat sebuah colokan kosong tepat di samping Genta dan rekan-rekannya tengah menikmati makanan sekarang.

Mau tak mau Fairy mendekat ke meja di samping laki-laki itu. Namun, ia cuek dan tak menggubris beberapa pasang mata yang melihatnya. Setelah berhasil memberikan ‘nyawa’ pada netbook-nya, Fairy lanjut menulis.

Fairy sempat menghubungi pengamat pertanian meminta pendapat tentang diskusi kali itu. Sekitar 16.30 WIB, Fairy selesai mengirim berita ne newsroom, 30 menit lebih cepat dari jam deadline.

“Udah selesai beritanya?” tanya sosok di samping Fairy.

Orang-orang AMHI yang tersisa di Vietopia ternyata hanya Genta dan Anis. Anggota lainnya pergi lebih dulu, mungkin ada agenda lain. Menyadari Genta bertanya padanya, Fairy kaget.

“Kok kamu kaget gitu?” sela Genta menyadari reaksi Fairy.

Nada suara Genta tak lagi formal seperti yang dilihatnya beberapa jam lalu. Suaranya lebih terdengar seperti bertanya ke rekan sebaya.

“Kaget lihat kamu. Nggak nyangka kalo kamu bakal jadi narasumber aku hari ini.”

“Loh, Mas Genta udah kenal Mba Fairy toh,” Anis menyela.

“Iya, waktu kita company outing ke Sukabumi. Kamu waktu itu nggak ikut Nis.”

Anis mengangguk tanda mengerti.

“Ooo ya, ya, teman-teman di kantor sempat cerita Mas Genta waktu itu rafting dan sempat nyelamatin cewek yang hanyut. Itu Mba Fairy bukan? Pasti bukan kan ya?” ujarnya sambil tertawa pelan.

Wajah Fairy memerah menahan malu. Anis merasa tak perlu menunggu jawaban Fairy. Sudah pasti cerita rekan-rekannya di kantor benar sebab wajah Fairy seperti kepiting rebus mendengar perkataan barusan.

Fairy beranjak dari posisi duduknya. Dia merasa sebaiknya tak berlama-lama di tempat itu. Ia langsung berpamitan dengan kedua rekannya.

“Semuanya, gue duluan ya?” ujarnya sebelum meninggalkan Vietopia.

Fairy tak lagi menoleh ke belakang. Dia menghentikan sebuah taksi menuju rumahnya di Suropati.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.