7. Perkenalan

From: Mikail_IDaily
To: [ReporterID]
Subject: Rapat Akbar Redaksi
Date: Fri, March 12 2010 / 15.00 AM
Kawans,
Semua reporter diharapkan datang pada Jumat (12/3) malam ini pukul 19.00 WIB. Kepala Newsroom Heri Ariefyanto akan memimpin rapat akbar redaksi dengan agenda sbb:
1. Sosialisasi penggunaan modem baru yang nantinya akan dibagikan secara gratis dari kantor untuk dukungan kerja kawans di lapangan
2. Sosialisasi Indonesia Daily Award 2010
3. Pendalaman proposal investigative reporting
4. Pengumuman reporter terbaik Februari-Maret 2010
Harap datang dan menyesuaikan waktu agar bisa mengikuti rapat ini bersama kawans lainnya. Bagi yang masih liputan di lapangan pada jam tersebut, harap berkoordinasi dengan newsroom.
Terima kasih
-Newsroom-

Fairy menghembuskan napas berat setelah membaca email tersebut. Tiga bulan berlalu dan setiap harinya Fairy menerima penugasan berat di pos liputannya.

Hari ini seharusnya liputan santai. Fairy bahkan berencana ke Citarik, Sukabumi bersama teman-teman Forum Wartawan Kehutanan (Forwahut).

Fairy menghubungi Kang Maik dan meminta izin tak bisa ikut rapat malam itu. Kang Maik akhirnya bisa memaklumi dan mengizinkan gadis itu absen.

Pukul 18.00 WIB, usai rapat Dewan Gula Nasional di Kementerian Pertanian, Fairy bergegas menuju Halte Pertanian Transjakarta ke Kuningan Timur. Dari sana ia transit ke Slipi Petamburan, halte terdekat dari Gedung Manggala Wana Bhakti.

Sesampainya di ruang wartawan, Fairy mendapati sahabat-sahabatnya dengan wajah tak sabar.

“Maaf kawan, gue lama antre busway ke Slipi,” ujar Fairy membela diri.

Ocha mencibir.

“Minta maaf sama polisi. Udah kering nih nungguin lu, dari tadi gue bolak balik WC sampai empat kali,” katanya.

“Lu lagi sakit perut apa kering karena nungguin gue, Cha?” balas Fairy sambil terkekeh.

Dari belakang Fairy, Gloria datang.

Taraaaaa, gue datang,” ucap Gloria sambil menggandeng pacarnya, Okta yang juga wartawan.

“Lha, itu Si Glo baru datang, kok cuma gue doang yang diomelin?” balas Fairy.

“Lu tahu nggak Glo? Si Ocha udah bolak-balik WC sampai empat kali gara-gara nungguin lu,” kata Dewe.

Gloria mencolek pipi Ocha.

“Lu lagi sakit perut ya Cha? Ntar gue beliin obat mencret,” katanya sambil menaruh tas ranselnya ke salah satu kursi di ruangan itu.

Sontak seisi ruangan tertawa. Pukul 19.00 WIB, bus Blue Star membawa mereka menuju Sukabumi.

Jalanan lumayan macet, mungkin karena menjelang weekend. Orang-orang biasanya liburan ke Puncak, Bogor atau lanjut ke Bandung.

Anggota Forwahut yang ikut malam itu sekitar 10 orang. Sebagian besarnya adalah rekan-rekan Fairy yang juga bertugas di Kementerian Pertanian, seperti Daniel, Ocha, Tria, Panda, dan Mas Asep. Rekan-rekannya yang baru adalah Dewe, Gloria, Mas Sugi, Pak Arief, dan Mba Fenty.

Satu jam perjalanan, Fairy melihat jam G-Shock hitam yang setia melingkar di tangan kirinya selama tiga tahun terakhir. Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB.

Fairy melirik ke belakang. Ia melihat Gloria sudah tidur lebih dulu. Tria sibuk berkirim pesan dengan pacarnya, Garry. Sementara sisanya asik bergosip ria.

Televisi di dalam bus, sedari tadi memutar film Fast 2 Furious 3. Namun yang terlihat serius mengikuti jalan cerita hanya Mas Sugi, Pak Arief, Bu Trisia, dan Mba Shanti.  Fairy sudah menonton film itu beberapa kali.

Gadis itu memandang keluar dan melihat bus sudah melewati Sentul. Masih tiga jam lagi sampai di Sukabumi. Fairy pun menaruh sepasang earphone ke telinga dan mendengarkan koleksi lagu-lagu MP3-nya.


Tiba-tiba Fairy dikejutkan suara riuh di dalam bus. Rupanya sudah pukul 21.30 WIB. Agaknya Fairy tertidur selama satu jam.

Mas Sugi, Daniel, dan Pak Arief terdengar bersorak. Mereka ternyata melihat masih menonton film sama dan sedang memutar scene adu balap antara dua tokoh utama. Adegan tabrakan mobil beruntun tampaknya seru.

Konsentrasi Fairy berubah ke Ocha dan Tria yang baru saja terbangun dari tidurnya. Daniel mengalihkan perhatian dengan membuka candaan rayuan maut ala Raja dan Ratu Gombal.

“Tria, papa kamu polisi ya?” ujar Daniel mengawali percakapan.

“Kok tahu, Niel?” ujar Tria merespon.

“Iya, soalnya kamu telah menilang hatiku, Tria.”

Fairy tertawa lepas menyusul rekan-rekan seisi bus lainnya.

“Daniel, ke toko bunga yuk?” kata Tria.

“Ngapain Tria?” tanya Daniel.

“Aku mau beli bibit bunga cinta untuk ditanam di hatimu.”

Seisi bus kembali tertawa terbahak-bahak, terutama Gloria yang sedari tadi tak bersuara. Ocha tak mau kalah, lalu mencoba menjadi Ratu Gombal.

“Daniel, kamu itu kaskusser ya?”

“Kok kamu tahu Cha?” imbuh Daniel dengan cengiran semakin lebar.

“Iya, soalnya kamu telah memPERTAMAXkan hatiku.”

Iringan tawa membahana di dalam bus. Sekarang giliran Dewe yang memulai rayuannya.

“Daniel, Daniel, bapak kamu tukang bakso ya?”

“Bokap gue pelaut sih. Cuma buat lu gue jawa iya aja deh. Kok tahu, We?”

“Soalnya kemarin gue beli bakso sama bokap lu dan belum bayar.”

Candaan Dewe kali itu semakin memicu ketawa seisi bus.

Bus baru saja melewati Kawasan Pasir Kuda. Pak Arief memperkirakan mereka sampai kurang lebih satu jam lagi.

Jalan sekarang terasa berliku. Fairy dan teman-temannya kembali ke posisi duduk semula. Rayuan maut ala Raja dan Ratu Gombal terhenti. Kelihatannya perut mereka mulai mual karena jalan berkelok-kelok.

Pukul 23.00 WIB, bus akhirnya berhenti di sebuah lapangan parkir. Satu per satu mereka turun.

Fairy dan teman-temanya menginap di Caldera Citarik Rivert Resort. Suara aliran air deras menghantam bebatuan kali seolah mengucap selamat datang.

Resort milik Caldera Indonesia merupakan pusat berbagai kegiatan outbound dan adventure di Citarik. Alamatnya di Kampung Lebak Wangi, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Lebih dari 11 tahun Caldera menjadi sahabat para pecinta alam yang datang berlibur, terutama rafting ke Sungai Citarik.

Kawasannya terbagi atas empat wilayah kegiatan. Wilayah paling depan berupa front office, saung, restoran, hingga hotel, dan merupakan tempat penyimpanan seluruh peralatan rafting. Wilayah kedua merupakan lokasi yang di atasnya terdapat aula cukup besar, saung, hingga lapangan futsal.

Wilayah ketiga berupa lahan kosong yang menjadi tempat bermain, serta saung untuk menginap, lengkap dengan kamar mandinya. Di sini Fairy dan rekan-rekannya akan beristirahat.

Saung dua lantai itu tak memiliki pintu, terbuat dari bambu dan kayu. Lantai pertama berupa ruang lepas yang di ujungnya terdapat dua kamar mandiri, pria di kiri dan wanita di kanan.

Di dekat pintu masuk saung, tepatnya sebelah kanan, terdapat meja kecil tempat menaruh dispenser air plus hidangan jagung rebus, pisang rebus, ubi bakar, dan kacang. Hidangan itu mencerminkan suasana pedesaan yang nyaman.

Lantai kedua merupakan tempat beristirahat. Ruang lepas itu terdiri dari deretan kasur dan bantal yang diatur berjejer kiri dan kanan. Kasur itu beralaskan kayu.

Wilayah terakhir merupakan lokasi flying fox. Letaknya di seberang Sungai Citarik. Pengunjung harus menyeberangi sebuah jembatan darurat untuk mencapainya.

“Fay, Fay, lu ngelamun ya? Halooo,” Daniel melambaikan lima jari tangannya di depan wajah Fairy.

Gadis itu terkejut dan melepaskan tangan yang menopang dagunya sedari tadi.

“Anak-anak mana?” ujar Fairy mengarah ke Daniel.

“Tuh di belakang lu lagi antre ngambil makanan,” kata Daniel.

Fairy menoleh dan melihat Ocha dan Gloria menikmati soto ayam. Tria dan Dewe terlihat berjalan ke arah Fairy sambil membawa piring makanan masing-masing.

“Makan dong Fay, ntar lu masuk angin,” ujar Gloria sambil duduk di kanan Fairy.

Glo kemudian menaburkan garam halus ke dalam sotonya yang menggugah selera. Fairy pun tergoda dan akhirnya menuju meja saji.

Ia mengambil tiga tusuk sate dan tiga sendok mi goreng, kemudian menaruhnya ke piring. Bunyi kriuk kriuk di perutnya menunjukkan Fairy sangat lapar.

Beberapa tamu remaja dari grup lain mengitari taman. Mereka mengadakan acara akustikan. Tak lama mereka bernyanyi bersama lagu-lagu lawas Koes Ploes, salah satunya lagu Ayah yang menelisik pendengaran Fairy.

“Apes nih gue. Nggak ada sinyak XL di sini. Gue nggak bisa kasih kabar ke Okta kalo gue udah sampai,” ujar Gloria sambil menyuap soto ayamnya.

“Makanya, pakai Telkomsel Glo, di mana-mana ada sinyal,” goda Fairy sambil tersenyum melirik Gloria dan lainnya.

Fairy membuka Facebook dan Twitter bergantian. Hal yang dilakukannya setiap hari, setiap jam, menit, bahkan detik. Ia mencari sebuah nama di sana.

@NugrohoDaru_Prayoga: ….Eagle always flies alone… (Last update 20 minutes ago)

Itu status terbaru Facebook Daru yang biasa dibaca Fairy.

Setelah kenyang, Fairy langsung beristirahat di saung. Teman-temannya yang lain tampaknya masih belum mengantuk. Pak Arief dan Bu Trisia sibuk membicarakan perkembangan bisnis kehutanan.

Tubuh Fairy terasa hangat di dalam kantung tidur (sleeping bag). Besok dia harus bangun lebih awal karena kegiatan rafting dimulai pukul 07.00 WIB. Tiba-tiba Fairy mendengar langkah pelan seseorang menaiki tangga saung.

“Niel, lu ya? Anak-anak mana?” tanya Fairy setengah mengantuk.

“Ini gue,” kata seorang lelaki yang suaranya seperti baru pertama kali Fairy dengar.

Laki-laki itu menyapa lagi saat setengah tubuhnya muncul dari arah tangga.

“Yang lain mana Ngga? Sorry gue telat. Pesawat gue dari Semarang delay tadi,” kata laki-laki tak dikenal itu.

Kantuk Fairy tiba-tiba hilang. Fairy memperhatikan dengan seksama dari balik selimutnya. Laki-laki itu membuka jaketnya yang berwarna biru pekat sambil membelakangi Fairy. Ia kemudian menggantungkannya di sudut ruangan.

Mengapa laki-laki itu ada di sini? Untuk apa? Siapa dia? Sejuta pertanyaan bermain di benak Fairy. Laki-laki itu kemudian membalikkan badannya sehingga dengan jelas Fairy dapat melihat wajahnya. Asing, dia tak pernah melihat wajah itu sebelumnya.

Fairy langsung mengubah posisi tubuhnya dari berbaring menjadi terbangun dan duduk.

“Maaf, kamu siapa ya?” tanyanya kaget dan tiba-tiba.

Laki-laki itukemudian serius menatap Fairy. Ia pun tak kalah terkejutnya.

“Kamu siapa?” tanyanya balik.

Dengan setengah malas, Fairy langsung berjalan ke arah laki-laki itu.

“Kok malah tanya balik? Kamu siapa? Kok kamu bisa ada di sini?”

Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke sekeliling saung lantai dua itu.

“Aku Genta. Aku dan teman-temanku ada acara company outing di sini. Tadinya aku mau cari Jingga, teman aku. Aku malah mengira kamu itu Jingga,” paparnya.

“Kamu pasti salah masuk. Di sini nggak ada yang namanya Jingga. Dan semua yang ada di sini nggak lagi company outing. Kamu cek lagi deh, coba hubungi teman-teman kamu,” ujar Fairy.

“Ponselku nggak dapat sinyal di sini. Terakhir tadi aku hubungi Jingga, katanya dia ada di saung Ciptalaya, di sini kan? Ya aku tadi naik,” tuturnya.

“Ciptalaya? Ini Ciptamaja. Jadi maaf, kamu salah. Mungkin teman-teman kamu ada di saung sebelah atau di ujung sana,” Fairy menunjuk ke belakang Genta.

Genta kemudian menepuk keningnya sendiri seperti menyesal bercampur rasa malu. Ia tertawa ringan dan tersenyum ke arah Fairy. Spontan, Fairy membalas senyumannya. Hampir saja dia mengira laki-laki ini bermaksud jahat. Untung saja Genta segera meminta maaf.

“Maaf ya? Aku salah masuk. Maaf, maaf,” ulangnya kembali dan langsung mengambil lagi jaket yang tadi sudah digantungnya. Laki-laki itu lalu bergegas turun.

Fairy hanya mengangguk. Dari atas saungnya, Fairy melihat ke bawah. Genta berjalan ke saung sebelah, kemudian membaca seksama nama saung yang terpajang di pintu masuk. Ternyata benar, Saung Ciptamaja ternyata berada di sebelah saung Fairy.

 😉  😉  😉  😉  😉

Butir-butir embun belum ikhlas meninggalkan rerumputan hijau di Citarik. Masih terasa basah saat Fairy menapakinya bertelanjang kaki di pagi hari. Saat melirik jam tangannya, Fairy menyadari masih 1,5 jam lagi sebelum rafting dimulai.

Kabut tipis menggantung manja di atas Bumi Cikidang. Fairy begitu  menikmati jalan pagi di kampung yang tenang itu sebelum kembali ke saung. Ia mendapati teman-temannya sudah bangun dan berpakaian rapi.

Pukul 06.30 WIB, semua anggota Forwahut duduk rapi di tenda meja makan di luar saung. Mereka menikmati sarapan nasi goreng dan telur dadar beraneka bentuk, seperti bintang, hati, bulan, hingga segi lima. Semuanya menjadi hidangan sarapan yang lezat, tak lupa secangkir orange juice atau segelas teh kopi yang dapat dipilih sesuka hati.

Kegiatan arung jeram kali itu dipandu dua instruktur alias river guide. Fairy, Ocha, Tria, Mba Fenty, dan Mas Sugi berada dalam tim yang sama. Instruktur mereka bernama Mas Manan.

Usai berpakaian perang lengkap, seperti helm pengaman, jaket pelampung, dan dayung, mereka diangkut dengan mobil colt terbuka menuju ke titik awal. Jaraknya 20 menit dari saung.

Perahu arung jeram biru berlogo CALDERA menyambut kedatangan mereka. Mas Manan menjelaskan tutorial singkat dan peraturan arung jeram, misalnya, kode dayung kiri, dayung kanan, dayung mundur, boom, mengatur keseimbangan perahu, dan cara menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu perahu berbalik.

Dua perahu Caldera yang ditumpangi dua grup Forwahut mulai menyusuri Sungai Citarik. Mereka akan melakukannya dua jam ke depan, menyisir jeram-jeram Citarik yang panjangnya mencapai 16 km.

Begitu sampai di bagian sungai yang luas dan tenang, Mas Manan menawarkan peserta untuk turun dari perahu karet. Peserta dapat menyelam, dan berenang selama beberapa menit. Kedalaman airnya hanya berkisar 1-1,5 m. Relatif aman untuk mereka.

“Tapi saya nggak bisa berenang mas,” ujar Fairy sedikit ketakutan.

“Kamu  kan pakai pelampung, nanti bakal melayang. Telapak kaki datarkan seperti biasa dan jangan panik,” kata Mas Manan.

Meski tak begitu yakin, Fairy tetap memberanikan diri masuk ke sungai. Benar kata Mas Manan, Fairy tertawa bahagia ketika mengetahui dirinya tidak tenggelam. Ocha dan Mba Fenty di sisi lain berenang dengan lincahnya di belakang Fairy.

Dari jauh, Fairy melihat perahu karet peserta lain datang ke arahnya. Perahu itu ternyata bukan perahu yang mengangkut anggota tim kedua Forwahut. Sepertinya Fairy mengenal salah satu penumpangnya, laki-laki yang semalam masuk ke saungnya.

Genta sepertinya menyadari sosok Fairy. Sejenak ia memperhatikan gadis itu kemudian tertawa melihat Fairy yang hanya melayang di atas air tanpa melakukan gerakan berenang seperti rekan-rekan lainnya.

Jantung Fairy berdetak kencang menahan malu. Ia juga merasakan gelegak emosi begitu Genta sedikit menertawakannya.

Fairy mendadak panik, terlebih saat perahu Genta yang hanya berjarak satu meter melewatinya. Tawa Genta disusul tawa rekan-rekannya yang lain.

Fairy memutar badan, namun ia kehilangan keseimbangan. Perahu Genta  menyebabkan air riak. Arus sungai yang sedari tadi tenang menjadi bergelombang. Fairy baru sadar arus itu ikut menghanyutkan tubuhnya. Ia lalu berteriak minta tolong.

“Ochaaaa, Mba Feee, tolooong,” teriak Fairy yang kepalanya timbul tenggelam di balik jaket pelampungnya yang semakin longgar.

Sementara itu dari kejauhan Genta terus melaju. Namun, perhatian Genta yang sedari tadi menertawakan Fairy berubah risau. Ia melihat gadis itu tak bisa lagi mengendalikan diri.

Genta terjun dari perahunya dan berenang menuju Fairy. Fairy berteriak histeris dan langsung memeluk tubuh Genta begitu merasakan ada sosok mendekatinya.

“Tolong…tolong gue…tolooooong,” teriak Fairy.

Genta meyakinkan dirinya sudah memegang tubuh Fairy dengan kuat. Ia lalu menggiring tubuh gadis itu menuju perahu. Fairy selamat.

“Jangan panik Fay, lu kan udah pakai pelampung say,” celetuk Tria.

Mata Fairy memerah dan menangis. Wajah lugu plus suara tangisnya yang seperti anak keci rupanya kembali memancing tawa Genta yang masih mengapung di dalam ait.

Petualangan berlanjut. Perahu Fairy kini melewati tantangan jeram lebih berat. Aliran air Citarik yang mereka lewati tak lagi beraturan. Beberapa titik terdapat pusaran air bergolak di antara bebatuan cadas.

Mas Manan kembali mengatur pasukan untuk menjaga keseimbangan. Giliran Ocha yang terhempas ke air dan terjatuh dari perahu. Namun, ia berhasil kembali menyelamatkan diri dan mendayung kembali perahunya bersama rekan lain.

Beberapa kali Fairy mengganti posisi untuk memastikan dirinya aman. Ia tak ingin terjatuh lagi.

Dua jam berlalu, sampailah mereka dititik akhir. Kelompok Daniel tiba lebih dulu. Begitu merapat, Fairy langsung keluar dari perahu dan bergegas menuju shelter.

Di sana Fairy menyadari sepasang mata memperhatikannya sedari tadi. Mata Genta. Lelaki itu dengan santai menyeruput air kelapa muda dari bangkunya yang hanya berjarak dua meter dari Fairy.

Fairy sempat melirik ke arah Genta, namun kembali membuang pandangan. Rasa kesal masih menyeruak di hatinya.

Menyadari masalah di antara mereka belum selesai, Genta beranjak dari kursi dan berjalan ke arah Fairy.

“Halo Fay. Maaf, atas kejadian tadi,” ujar Genta yang mengambil posisi duduk di depan Fairy.

“Kenapa kamu bisa tahu nama aku?” tanya Fairy sedikit marah.

Ia tak mengomentari kembali ucapan Genta sebelumnya.

“Gue yang kasih tahu Fay,” Dewe menyela percakapan.

Genta menyodorkan sebotol minuman isotonik ke arah Fairy.

“Minum yang banyak, biar sisa panik kamu hilang,” ujar Genta.

Tanpa menunggu tanggapan Fairy, Genta pun langsung beranjak menyusul rekan-rekannya yang sudah menaiki mobil ke base camp.

Sore harinya sekitar pukul 15.00 WIB, Fairy ada di ruang fotografi Citarik. Letaknya di front office. Ia melihat hasil-hasil foto selama rafting pagi tadi.

Masing-masing peserta berhak mendapatkan satu cetakan foto dari pengelola Citarik River Resort. Fairy memilih opsi beberapa foto yang lumayan bagus. Wajah Fairy sesekali menggembung seperti ikan kembung begitu melihat potretnya saat tenggeam.

“Lucu lucu fotonya,” bisik seseorang dari belakang.

Fairy menoleh ke sumber suara dan lagi-lagi mendapati sosok Genta.

“Kamu senang banget kalo ledekin aku,” akhirnya pancingan kata-kata Genta kembali membuat Fairy emosi, meski skala kemarahannya tak sebesar tadi pagi.

Genta tertawa kembali.

“Maaf, maaf, sorry,” ulang Genta.

Ia lalu mengarahkan pandangan kepada fotografer yang sebelumnya melayani Fairy dan mencetak beberapa foto. Usai membayar dan memperoleh CD fotonya, Genta ingin beranjak pergi, namun baru dua langkah ia menjauh, laki-laki itu kembali berbalik melihat Fairy. Masih ragu, ia kembali melanjutkan langkahnya menjauh. Namun, sekali lagi dia berbalik melihat Fairy.

Fairy sepertinya membaca kegelisahan Genta.

“Kenapa?” tanyanya.

Genta menjadi kikuk.

“Nggak apa-apa.”

“Ada yang ketinggalan? Apa mau ledekin aku lagi?” goda Fairy sambil tersenyum kecil.

Saat memandangi Genta, ia baru menyadari pria itu mempunyai paras wajah campuran Indonesia dan Jepang. Genta berwajah oval, matanya besar, alisnya hitam dan tebal.

Genta menggeleng. Ia memutuskan maju kembali ke sisi Fairy.

“Aku mau balik duluan ke Jakarta. Sekali lagi, aku minta maaf kejadian-kejadian yang kurang enak sebelumnya. Clear ya?” ujarnya sedikit terbata-bata.

“Kamu nggak bosan minta maaf terus?” tanya Fairy balik.

“Abisnya dari kemarin malam maaf aku nggak pernah dapat jawaban. Kamu malah balik nanyain aku,” Genta mengarahkan pandangannya ke mata Fairy.

Fairy memandang Genta dari sisi meja. Ia lalu melotot dan membuat Genta sedikit bergidik. Fairy lalu tertawa puas, terkekeh geli sambil menunjuk Genta. Setelah puas, ia berhenti.

“Iya, iya, aku maafin,” jawabnya.

Genta puntersenyum. Ia mengulurkan tangan dan Fairy menyambutnya. Perselisihan kecil keduanya pun berakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.