3. Pemanenan S.Hut

Fairy berkonsentrasi di depan laptopnya sejak satu jam lalu. Dia menulis sedikit cerita di blognya Ceritaperi tentang kebahagiaannya meraih gelar akademik Sarjana Kehutanan (S.Hut) tadi pagi.

8 Oktober 2008 @ Ceritaperi

‘Pemanenan S.Hut’ adalah istilah seremonial wisuda kampus Fakultas Kehutanan IPB. Upacara hari kelulusan mahasiswa ini selalu dilaksanakan Rabu.
Rabu merupakan hari emas di IPB. Budaya ‘Rabuan’ juga diterapkan di kampus, mulai dari level mahasiswa, staf departemen, fakultas, hingga rektorat. Acara Rabuan di kampusku misalnya, selalu diisi dengan gelaran musik ‘Simfoni Rimbawan’ yang menampilkan pertunjukan seni ala anak-anak kehutanan.
Eits, lupakan sejenak soal asal usul Rabuan itu. Yang jelas, pada Rabu ini, tepatnya pukul 08.00 WIB, aku menjadi satu dari 800 orang mahasiswa yang akan diwisuda. Rasanya nggak percaya, mengingat betapa kerasnya aku menjalani kuliah. Banyak halangan dan rintangan mengiringi masa-masa studiku di Kota Hujan ini.
Berawal dari masuk IPB tanpa jurusan alias Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Seluruh mahasiswa baru harus tinggal di asrama selama setahun. Hasil belajar satu tahun ini di TPB dapat menyebabkan seorang mahasiswa baru bisa lulus di departemen pilihannya, atau terlempar ke departemen yang tak diinginkan.
Alhamdulillah, aku lulus sebagai rimbawan di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE), Fakultas Kehutanan IPB. Departemen ini merupakan pilihan pertamaku. Ngomong-ngomong, DKSHE merupakan nama departemen terpanjang di IPB lho. Hehehe.
Di kampus ini aku berkutat dengan banyak mata kuliah momok, seperti Kalkulus, Kimia Kayu, Manajemen Hutan, dan Pengolahan Hasil Hutan. Kami juga berhadapan dengan berbagai tipikal dosen yang terkadang terlihat menakutkan.
Rabu ini adalah hari kemerdekaanku. Ini hari kebebasanku dari setiap rutinitas sebagai seorang mahasiswa dan berganti status menjadi alumnus. Mau istilah yang lebih ekstrem? Mungkin saja aku akan menjadi pengangguran baru alias job seeker.
Alhamdulillah, ayah, ibu, dan adikku, Fandy, bisa bersamaku hari ini. Kehadiran mereka sekalian menjadi ajang nostalgia dan temu kangen orang tua dan anak. Kami berempat berkumpul dan tidur bersama di rumah kontrakanku yang sangat sederhana.
Kembali lagi ke Gedung Grha Widya Wisuda, tempatku melangsungkan pelepasan wisudawan hari ini. Air mata tak mampu kutahan saat mengingat kembali sekelumit jasa orang-orang terkasih yang mengantar kesuksesanku. Aku ingat pengorbanan ayah tercinta, doa ibu yang bagaikan Tuhan selalu menyayangiku sepanjang waktu.
Hatiku terenyuh saat mendengarkan lantunan lagu ‘Bunda’ dibawakan oleh paduan suara ‘Agriaswara IPB.’ Saat kami menyanyikan lagu ‘Hymne IPB,’ aku merasakan debaran jantung semakin cepat. Apalagi, saat Bapak Rektor memindahkan tali kuning di topi wisudaku ke sebelah kanan.
Bapak Dekan memberikan ijazah, kemudian Pak Kadep (Kepala Departemen_ mengalungkan medali kelulusanku. Lengkap sudah namaku menjadi Fairy Nurulia, S.Hut. Terima kasih ya Allah.
Ditulis dimalam pertama menjadi S.Hut
-Fay-

Gadis itu kemudian mencentang tombol submit di monitornya. Selesai sudah ia memperbaharui tulisan terbarunya. Sejenak kemudian, Fairy mencoba mengingat lagi kejadian tadi pagi, beberapa saat sebelum upacara wisuda dimulai.

 🙂  🙂  🙂  🙂  🙂

Bi Ipon mengetuk pintu kamar Daru beberapa kali. Ia membawakan seragam wisuda majikannya yang akan digelar hari itu. Sayang, Daru mengunci pintu kamarnya dari dalam, sehingga Bi Ipon tak bisa membangunkan langsung.

Ponsel Daru berdering lebih dari 10 kali. Namun, telinganya bagai tersumbat berlapis-lapis kapas sehingga masih terlelap.

Deringan mendadak sebuah jam weker akhirnya membuat Daru terbangun. Karena terlampau kaget Daru langsung berguling jatuh dari kasurnya. Ia terhempas ke lantai dalam balutan selimut.

“Aduh!” katanya seperti sebuah teriakan tertahan.

Matanya yang sipit menatap sekelilingnya meski belum fokus. Daru kemudian mengucek kedua bola matanya yang sedari tadi terpejam, lalu mulai melihat ke arah jam weker itu.

“Ya ampun!”

Bagai disiram air terjun super dingin dari Gunung Salak, Daru terbangun seketika. Jam weker di kamarnya sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Agaknya Daru lupa mengubah jam wekernya satu jam lebih cepat di hari istimewa itu.

Hari sebetulnya masih pagi, tapi Daru merasakan panik setengah mati. Sebab, ini adalah upacara wisuda mahasiswa IPB, termasuk dirinya. Upacara akan digelar di Gedung Grha Widya Wisuda.

Sewaktu geladi resik sehari sebelumnya, pihak rektorat sudah mengingatkan calon wisudawan untuk hadir di lokasi pukul 07.00 WIB. Pintu gedung akan ditutup dan upacara kelulusan akan dimulai tepat 07.30 WIB. Daru bergegas membuka pintu kamar dan terkejut melihat Bi Atun di depan pintu.

“Ini Mas Daru, seragamnya.”

“Taruh di dalam ya Bi?” ujarnya seraya beringsut ke kamar mandi.

Bi Ipon pun langsung menaruh jubah wisuda Daru yang sudah rapi di atas kasur. Begitu selesai mandi, Daru memasukkan beberapa perlengkapan wisuda ke dalam tasnya, seperti topi, matros, pin bulat berlogo IPB, dan pin segi tiga abu-abu berlogo Fakultas Kehutanan.

Setelah memakai kemeja putih, mengenakan dasi yang masih longgar, jas, serta sepatu, Daru langsung mengebut motornya menuju Kampus Darmaga.

Rumah Daru ada di Kawasan Ciomas, Bogor. Ia yakin bisa sampai di kampus maksimal pukul 07.15 WIB. Jalanan menuju kampus padat merayap.

Tak hanya di momen wisuda, jalanan kampus juga macet di hari biasa. Daru berusaha cerdas menyelipkan sepeda motornya memotong jalan hingga sampai di gerbang kampus.

“Buruan mas, GWW mau ditutup,” kata seorang satpam sambil memberikan kartu tanda masuk kendaraan.

Daru hanya membalas ucapan satpam itu dengan senyum singkat. Ia langsung memarkir motor, kemudian setengah berlari melewati Taman Rektorat menuju GWW.

Halaman depan GWW disesaki ratusan mahasiswa dari sembilan fakultas. Mereka juga wisuda pada hari yang sama.

Daru menyapu pandangannya, mencari teman-temannya yang lain. Seorang gadis cantik berkebaya merah marun terlihat melambaikan tangan.

“Itu Fay,” ujar Daru kehabisan napas.

Melihat Fairy, ia pun lega kemudian menghampiri sahabatnya itu.

“Kenapa kamu telat banget sih? Kamu begadang lagi semalam? Aku udah hubungi kamu belasan kali dari jam lima Subuh,” ujar Fairy sedikit berteriak mengimbangi suara ribut dari calon wisudawan sekelilingnya.

“Iya, aku telat bangun. Aku datang jam segini aja udah syukur banget. Tadi supermacet dari Laladon. Thanks, kamu udah bangunin aku.”

Daru kemudian melonggarkan dasi yang mulai terasa mencekik leher. Fairy membantu Daru merapikan diri.

”Kamu itu aneh banget bisa telat di momen sepenting ini. Pin IPB dan Fahutan kamu mana?” kata Fairy.

“Oh, iya!” Daru kemudian merogoh tas dan mengeluarkan dua buah pin.

Fairy menyematkan kedua pin itu di dada kiri dan dada kanan Daru.

“Orang tua kamu udah masuk?” tanya Daru.

“Udah, ayah ibu sudah di dalam. Orang tua kamu?” Fairy kemudian tercekat karena ucapannya barusan.

Pertanyaan itu sangat dibenci Daru, dan Fairy tak sengaja menanyakannya. Orang tua adalah satu-satunya misteri tentang Daru yang tidak diketahui Fairy.

Daru memandang Fairy sedikit termenung. Gadis itu menyadari kesalahan ucapannya dan meminta maaf.

“Dar, maaf, aku tadi nggak…”

“Nggak apa-apa Fay. Orang tua aku nggak bisa datang,” jawab Daru tersenyum.

“Wupsss, mesranyaaaa,” suara Boni menyapa dari belakang.

Kehadiran Boni membuat suasana yang hampir tegang mencair kembali.

“Kenapa? Sirik? PW (pendamping wisuda) kamu mana, Bon?”

“Lila ada di dalam dong, sama papa mama. Hehehe,” ujar Boni sambil nyengir kuda.

“Empat tahun pacaran, lulus kuliah, trus langsung kawin nih,” goda Daru pada Boni.

Tak lama kemudian, dari pengeras suara terdengar perintah calon wisudawan merapikan barisan.

“Calon wisudawan Fakultas Pertanian dipersilakan memasuki ruangan,” ujar sumber suara.

Lebih dari 100 mahasiswa dari Fakultas Pertanian berkode A berbaris satu per satu memasuki GWW. Penamaan fakultas di IPB diurut berdasarkan abjad.

A merupakan lambang dari Fakultas Pertanian. Berikutnya Fakultas Kedokteran Hewan (B), Perikanan dan Ilmu Kelautan (C), Peternakan (D), Kehutanan (E), Teknologi Pertanian (F), Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (G), Ekonomi dan Manajemen (H), dan Fakultas Ekologi Manusia (I).

Fairy dan Daru adalah dua sarjana termuda yang lulus tepat waktu dari Fakultas Kehutanan IPB. Usia mereka ketika menyandang gelar S.Hut masih sangat muda, 20 tahun. Senyum bahagia terukir di wajah keduanya.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.