Tarian Langit Layangan Janggan

Rare angon mengangkut layanngan pecukan ke lapangan Padang Galak

Suatu hari di Sabtu (4/7) pagi, jalanan utama menuju Sanur ramai oleh truk-truk sewaan yang mengangkut layang-layang berukuran raksasa. Truk ini berjalan cukup pelan supaya tak mengganggu arus lalu lintas di jalanan Bali yang cukup sibuk setiap akhir pekan tiba. Di belakang truk itu, Pande Yoga (18 tahun) dan lebih dari 80 orang temannya, para rare angon asal Banjar Pande, Renon, Denpasar mengendarai motor dengan riangnya mengiringi truk yang membawa layang-layang janggan kebanggaan mereka.

Layang-layang yang menelan biaya pembuatan hingga belasan juta rupiah itu berhenti di Lapangan Padang Galak. Yoga bercerita layang-layang tradisional di Bali bukan untuk diadu, melainkan cara masyarakat menyampaikan rasa syukur kepada para dewa atas berkah yang telah diberikan. Rasa syukur dan semangat gotong royong yang mendasari tradisi melayangan ini yang membuat para rare angon tak mempermasalahkan menang atau kalah dalam perlombaan.  Continue reading “Tarian Langit Layangan Janggan”

Advertisements